Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group
benih lobster - kkpnews/kkp.go.id
Premium

Episode Lanjutan Drama Ekspor Benur

26 November 2020 | 11:17 WIB
Penangkapan Menteri Kelautan dan Perikanan Edhy Prabowo menjadi babak lanjutan dari bau busuk yang menyelimuti ekspor benih lobster sejak dilegalkan tahun ini.

Bisnis.com, JAKARTA – Menteri Kelautan dan Perikanan Edhy Prabowo sempat mengatakan bahwa lobster di Indonesia bisa menghasilkan 27 miliar benih sepanjang tahun. 

Hal tersebut diungkapkannya dalam sebuah diskusi yang digelar pada Juli, tak lama setelah ekspor benih bening lobster (BBL) penuh polemik direalisasikan usai legalisasi.

Dia lantas mengatakan bahwa potensi ini harus dimanfaatkan. Mengingat harapan hidup benih krustasea tersebut sangat rendah, hanya 0,02 persen jika dibiarkan di alam bebas. Sementara jika dibudidayakan, harapan hidupnya bisa mencapai 70 persen.

Semangat budidaya itulah yang sejatinya melandasi pembukaan keran ekspor benur. Dalam Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 12 Tahun 2020 tentang Pengelolaan Lobster, Kepiting, dan Rajungan di Wilayah Indonesia, pengeluaran benur hanya diperkenankan jika eksportir telah melaksanakan kegiatan pembudidayaan di dalam negeri dengan melibatkan masyarakat atau pembudidaya setempat.

Eksportir pun harus telah berhasil melaksanakan kegiatan pembudidayaan lobster yang ditunjukkan dengan panen berkelanjutan dan melepasliarkan lobster sebanyak 2 persen dari hasil pembudidayaan dan dengan ukuran sesuai hasil panen.

Namun syarat ekspor itu tampaknya tak lebih dari sekadar regulasi. Lima bulan berselang sejak aturan baru itu berlaku, ekspor benur telah melampaui 42 juta ekor. Padahal budidaya lobster sampai panen membutuhkan waktu setidaknya 8 sampai 12 bulan. Bagaimana bisa?

Silakan masuk/daftar untuk melanjutkan membaca Konten Premium

Dan nikmati GRATIS AKSES 8 artikel Konten Premium!

Masuk / Daftar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top