Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group
Pekerja memasukan daun tembakau hasil panen ke dalam gudang di Sidowangi Wongsorejo, Banyuwangi, Jawa Timur, Senin (21/9/2020). Petani setempat mengaku terpaksa menyimpan hasil panen di gudangnya dikarenakan harga tembakau turun dan kesulitan menjual hasil panennya karena tidak ada permintaan dari pabrik.  - ANTARA
Premium

Tarif Cukai Hasil Tembakau Naik Bikin Penerimaan Negara Turun, Kenapa?

13 Oktober 2020 | 15:34 WIB
Perubahan kebijakan maupun kenaikan tarif cukai dinilai menjadi hal yang dapat mengancam keberlangsungan industri hasil tembakau (IHT) terlebih di tengah kondisi pandemi saat kinerja industri mengalami penurunan.

Bisnis.com, JAKARTA — Perubahan kebijakan maupun kenaikan tarif cukai dinilai menjadi hal yang dapat mengancam keberlangsungan industri hasil tembakau (IHT) terlebih di tengah kondisi pandemi saat kinerja industri mengalami penurunan.

Saat ini reformasi fiskal yang diusung pemerintah lewat agenda kenaikan cukai dan penyederhanaan struktur tarif cukai cukup menuai pro dan kontra, terutama di kalangan pengusaha rokok skala kecil dan menengah. Para pelaku IHT mengharapkan bahwa pemerintah dapat bersikap bijak dalam menentukan kenaikan cukai di tahun depan mengingat kondisi yang tengah dihadapi berbagai industri saat ini.

Pelaku industri juga berharap bahwa pemerintah dapat tetap mendukung keberlanjutan IHT yang beragam di Indonesia dengan mempertahankan struktur saat ini yang mengakomodasi secara adil seluruh produsen rokok di Indonesia.

Peneliti Universitas Padjadjaran Bayu Kharisma menilai jika simplifikasi tarif cukai tembakau diterapkan, justru berpotensi menurunkan penerimaan negara. Hal itu tidak sejalan dengan semangat pemerintah yang ingin meningkatkan sumber penerimaan negara.

"Oleh karena itu, pemerintah harus mengkaji secara matang dan hati-hati, bahkan tidak perlu dilakukan dengan tetap mempertahankan kebijakan struktur tarif cukai yang ada sebagaimana tertuang dalam Peraturan Menteri Keuangan nomor 156/2018 sebagai revisi PMK 146/2017 tentang Tarif Cukai Hasil Tembakau," katanya melalui siaran pers, Selasa (13/10/2020).

Bayu mengemukakan untuk melihat pengaruh dari simplifikasi tarif cukai rokok terhadap penerimaan negara, harus menggunakan model dan metode ekonometrik. Data yang digunakan adalah panel data, yang mana jenis rokok sebagai observasi dan waktu yang digunakan antara Januari 2014 dan April 2019.

Silakan masuk/daftar untuk melanjutkan membaca Konten Premium

Dan nikmati GRATIS AKSES 8 artikel Konten Premium!

Masuk / Daftar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top