Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group
Petugas medis memperlihatkan sampel darah pengemudi angkutan umum saat tes cepat (Rapid Test) COVID-19 di Kantor Pusat Kementerian Perhubungan, Jakarta, Senin (20/4/2020). Bisnis - Eusebio Chrysnamurti
Premium

Kontroversi Rapid Test, Impor Terus Mengalir. Siapa Untung?

15 September 2020 | 05:00 WIB
Di tengah kontroversi keakuratan hasil rapid test untuk skrining pasien Covid-19, ternyata impor test kita ini cukup signifikan. Data INSW menunjukkan sampai 8 September 2020 nilai devisa impor penanganan Covid-19 mencapai US$532,94 juta atau Rp7,9 triliun

Bisnis.com, JAKARTA — Penggunaan rapid test kerap memicu kontroversi. Alat ini dinilai tidak akurat untuk mendeteksi virus Covid-19.

Epidemiolog Universitas UI Pandu Riono menyerukan agar cara Rapid Test Antibodi distop karena disalahgunakan.

Dia menyatakan Pemerintah harus melindungi publik dari layanan rapid test. Lebih lanjut Pandu menyatakan jika Rapid Test Antibodi tidak mendeteksi orang dengan virus Covid-19.

"Ini bukan metode yang dianjurkan untuk skrining. Juga buka prasyarat penting lakukan perjalanan dan kegiatan lain," tegasnya dikutip dari akun Twitternya.

Dia juga menjabarkan jika rapid test tidak membantu surveilans Tes-Lacak-Isolasi yg bertujuan putus rantai penularan. Karena itu dia menyatakan setop penggunaannya.

Dalam surat tertanggal 6 Juli 2020 yang ditunjukkan kepada Gugus Tugas, Perhimpunan Dokter Spesialis Patologi Klinik dan Kedokteran Laboratorium Indonesia (PDS PatKLin) mengungkapkan pemeriksaan PCR virus SARS-CoV-2 dengan hasil negatif maupun rapid test antibodi SARS-COV-2 dengan hasil nonreaktif tidak dapat menjamin seseorang tidak terpapar virus Corona, sehingga tidak dapat dinyatakan bebas dari virus SARS-CoV-2.

Silakan masuk/daftar untuk melanjutkan membaca Konten Premium

Dan nikmati GRATIS AKSES 8 artikel Konten Premium!

Masuk / Daftar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top