Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group
Warga berolahraga menggunakan sepeda di kawasan Sultan Iskandar Muda, Jakarta, Minggu (26/7/2020).  - ANTARA.
Premium

Bayang-Bayang Praktik Nakal Impor Sepeda

11 Agustus 2020 | 18:26 WIB
Di tengah lonjakan pengguna sepeda di Indonesia, terdapat dugaan terjadinya pelanggaran dalam importasi produk tersebut.

Bisnis.com, JAKARTA – Di balik meningkatnya tren pembelian sepeda di Indonesia, terdapat praktik impor borongan yang disertai pelanggaran yang diduga marak terjadi pada produk tersebut.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), selama 5 tahun terakhir volume impor sepeda cenderung fluktuatif di kisaran 20-25 juta kilogram pada 2015-2016. Namun demikian, volume impor sepeda melonjak pada 2018 menembus level 46 juta kilogram. 

Volume impor sepeda pada semester I/2020 naik 20,69 persen menjadi 15,51 juta kilogram dari realisasi periode yang sama tahun lalu 12,85 juta kilogram. Adapun, lonjakan terbesar terjadi pada Juni 2020 atau meroket 132,71 persen menjadi 4,09 juta kilogram secara tahunan. 

Namun jika dilihat berdasarkan pelabuhan entry point importasi sepeda, khususnya pada Pelabuhan Belawan dan Tanjung Mas, terdapat beberapa hal yang janggal.

Per Juni 2020, kedua pelabuhan tersebut merupakan pintu masuk untuk lebih dari 76 persen sepeda impor sepanjang semester I/2020. Akan tetapi hanya memiliki median harga sepeda per kilogram sekitar US$0,52. Sementara itu, sepeda impor yang masuk dari pelabuhan lain memiliki median harga per kilogram sekitar US$5,21.

Dengan kata lain, sepeda impor yang masuk dari Tanjung Mas maupun Belawan memiliki harga sekitar Rp300.000 per unit. Sementara itu, harga sepeda yang sama besutan pabrikan lokal memiliki harga jual rata-rata Rp3 juta di pasar domestik. 

Silakan masuk/daftar untuk melanjutkan membaca Konten Premium

Dan nikmati GRATIS AKSES 8 artikel Konten Premium!

Masuk / Daftar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top