Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group
Kendaraan melaju di antara gedung bertingkat di Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta, Kamis (14/11/2019). - ANTARA FOTO/Aprillio Akbar
Premium

Indonesia Jadi Negara Berpendapatan Menengah Atas, Baiknya Senang atau Sedih?

03 Juli 2020 | 18:00 WIB
Status baru yang disematkan Bank Dunia sebagai negara berpendapatan menengah ke atas dapat menunjukkan pengakuan dunia terhadap ekonomi Indonesia. Di sisi lain, status baru ini juga membawa konsekuensi tersendiri. Apa saja?

Bisnis.com, JAKARTA — Capaian Gross National Income (GNI) Indonesia yang sebesar US$4.050 pada 2019, atau naik dari US$3.840 pada tahun sebelumnya berujung jadi bumerang. Hal itu membuat Bank Dunia menaikkan status Indonesia dari negara berpendapatan menengah bawah ke kelompok menengah ke atas.

Status Indonesia naik bersama enam negara lain, yakni Benin, Mauritius, Nepal, Nauru, Rumania, dan Tanzania.

Sebagai catatan, Bank Dunia mengklasifikasikan negara berdasar GNI dalam empat kategori yakni berpendapatan rendah (kurang atau sama dengan US$1.035), berpendapatan menengah ke bawah (US$1.036-US$4.045), menengah ke atas (US$4.046-US$12.535), serta berpendapatan tinggi (di atas US$12.535).

Presiden Joko Widodo menyebut kenaikan ini adalah pertanda bagus.

“Kenaikan status ini harus kita syukuri dan kita perlakukan sebagai sebuah peluang agar negara kita, Indonesia, terus maju, melakukan lompatan kemajuan agar kita menjadi negara berpenghasilan tinggi dan berhasil keluar dari middle income trap,” kata Presiden Jokowi di sela-sela melakukan pidato virtual saat peringatan hari jadi Institut Teknologi Bandung (ITB), Jumat (3/7/2020).

Ucapan Jokowi seolah mengamini pernyataan Menteri Koordinator (Menko) Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar sehari sebelumnya.

Silakan masuk/daftar untuk melanjutkan membaca Konten Premium

Dan nikmati GRATIS AKSES 8 artikel Konten Premium!

Masuk / Daftar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top