Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group
Pekerja pabrik pulang seusai bekerja di salah satu pabrik makanan di Jakarta, Sabtu (11/4/2020). - Bisnis/Abdurachman
Premium

Dilematisnya Relaksasi Pembayaran Tunjangan Hari Raya

08 Mei 2020 | 11:44 WIB
Kebijakan relaksasi pembayaran Tunjangan Hari Raya (THR) menuai reaksi beragam. Ada yang berpendapat langkah ini dapat memperburuk daya beli, sedangkan pihak lainnya menilai dapat membantu pelaku usaha.

Bisnis.com, JAKARTA — Penerbitan Surat Edaran Menteri Ketenagakerjaan terkait relaksasi pembayaran Tunjangan Hari Raya menuai reaksi yang berbeda-beda. Sebagian pihak khawatir daya beli akan makin lemah pada kuartal II/2020, sebagian lainnya menilai dapat sedikit membantu pelaku usaha di tengah pandemi virus corona.

Pada Rabu (6/5/2020), Menteri Ketenagakerjaan (Menaker) Ida Fauziyah resmi mengizinkan perusahaan swasta menunda atau mencicil pembayaran Tunjangan Hari Raya (THR) Keagamaan tahun ini. Namun, dalam kebijakan tersebut, pembayaran THR yang dicicil atau ditunda tersebut tetap harus diselesaikan tahun ini.

Hal itu disampaikan dalam Surat Edaran (SE) Menteri Ketenagakerjaan Nomor M/6/HI.00.01/V/2020 tentang Pelaksanaan Pemberian Tunjangan Hari Raya Keagamaan Tahun 2020 di Perusahaan dalam Masa Pandemi Corona Virus Disease 2019 (Covid-19).

“Kepada Gubernur untuk memastikan perusahaan agar membayar THR Keagamaan kepada pekerja atau buruh sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan,” tulis Ida dalam SE Menaker tersebut.

Silakan masuk/daftar untuk melanjutkan membaca Konten Premium

Dan nikmati GRATIS AKSES 8 artikel Konten Premium!

Masuk / Daftar
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top