Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group
Pengunjung berada di salah satu stand pameran International Furniture Expo (IFEX) 2017 di Jakarta, Senin (13/3/2017). - JIBI/Dwi Prasetya
Premium

Order Tersendat Corona, Industri Mebel Merana

04 Mei 2020 | 11:05 WIB
Kinerja industri furnitur dan kerajinan nasional tersungkur karena order terganggu pandemi virus corona. Gelombang Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) pun menghantui.

Bisnis.com, JAKARTA — Wabah virus corona turut menghantam industri mebel dan kerajinan di Indonesia. Himpunan Industri Mebel dan Kerajinan Indonesia bahkan mencatat 90 persen sumber order dari negara tujuan ekspor furnitur dan kerajinan bermasalah akibat terdampak pandemi.

Sekretaris Jenderal Himpunan Industri Mebel dan Kerajinan (HIMKI) Abdul Sobur mengatakan saat ini, order mayoritas negara tujuan ekspor atau sekitar 85 persen, telah menerapkan kebijakan lockdown dalam waktu yang tidak sebentar. Tidak hanya kawasan Eropa yang mengimplementasikan lockdown, beberapa wilayah Timur Tengah dan Asia serta Australia pun termasuk zona yang memilih lockdown dalam waktu lama.

“Setelah Amerika Serikat (AS) dan zona Eropa, rerata pembeli kami menunda pengiriman, karena logistik dan transportasi tidak ada yang beroperasi mereka menunda order baru dan bahkan ada yang membatalkan ordernya,” ujarnya kepada Bisnis, Minggu (3/5/2020).

AS dan Eropa merupakan dua tujuan ekspor utama yang menjadi tulang punggung industri mebel Indonesia. Tahun ini, target ekspor mebel dan kerajinan nasional sangat besar, yakni US$5 miliar.

Besarnya target menunjukkan sektor ini sebelumnya diyakini mampu bertumbuh cukup signifikan pada 2020. Namun, berhentinya order membuat operasional perusahaan terganggu. Abdul memprediksi secara bertahap, banyak perusahaan yang kesulitan memenuhi upah karyawan.

Dia pun memprediksi perusahaan hanya mampu untuk bertahan hingga maksimal 8 pekan setelah diumumkan kebijakan lockdown di daerah tujuan order atau penghentian order. Menurut perhitungan HIMKI, jika dihitung secara rata-rata sejak tersendatnya kegiatan ekspor per 7 Maret 2020, maka batas maksimal daya tahan perusahaan yang sehat dan kuat arus kasnya adalah pertengahan Mei 2020.

Silakan masuk/daftar untuk melanjutkan membaca Konten Premium

Dan nikmati GRATIS AKSES 8 artikel Konten Premium!

Masuk / Daftar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top