Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda
Warga berbelanja kebutuhan pangan dan rumah tangga di salah satu supermarket di Cimahi, Jawa Barat, Minggu (19/4/2020). Bisnis - Rachman
Premium

Mengukur Kesiapan BUMN Pangan Tangani Krisis

23 April 2020 | 10:34 WIB
BUMN klaster industri pangan dianggap masih mengutamakan impor untuk menjaga stok nasional.

Bisnis.com, JAKARTA – Kerawanan pangan menjadi dampak lanjutan dari lockdown atau pembatasan skala besar yang terjadi di sejumlah negara di dunia.

Direktur Jenderal Food and Agriculture Organization (FAO) Qu Dongyu yang berbicara atas nama  tiga badan pangan PBB (FAO, WFP dan IFAD) menyebutkan negara anggota G20 -termasuk Indonesia di dalamnya – untuk memperkuat produksi pangan lokal dan mempersingkat rantai distribusi.

“Pandemi Covid-19 bukan hanya masalah kesehatan masyarakat tetapi juga ancaman bagi ketahanan pangan global. Mempertahankan akses ke makanan dan nutrisi yang aman adalah bagian penting dari respons kesehatan," ulas Qu, dalam rapat dengan Menteri Pertanian 20 negara ekonomi terbesar  dunia itu, yang dilansir FAO, Selasa, (22/4/2020) waktu Roma.

Dalam pertemuan itu, Qu mendesak para menteri G20 untuk melakukan transformasi kebijakan dengan mengutamakan distribusi berbasis dukungan teknologi. Arah kebijakan ini harus masuk dalam tujuan jangka panjang reformasi kebijakan pangan.

Wakil Ketua Komisi VI DPR RI Aria Bima menyebutkan dalam riset yang diselenggarakan salah satu media jurnal ekonomi dunia, Indonesia menjadi satu dari 113 negara yang terancam rawan pangan jika krisis Covid-19 tidak segera tertangani. Dalam laporan itu, Indonesia berada pada peringkat ke-62.

Silakan masuk/daftar untuk melanjutkan membaca Konten Premium

Dan nikmati GRATIS AKSES 8 artikel Konten Premium!

Masuk / Daftar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top