Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia tokotbisnis Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda
Seorang pekerja mengumpulkan getah di perkebunan karet dekat Bogor, barat daya Jakarta di provinsi Jawa Barat, Indonesia. File foto 28 Mei 2016. REUTERS/Darren Whiteside
Lihat Foto
Premium

Putar Otak BUMN Perkebunan Demi Pangkas Rugi

Tahun 2020 bakal menjadi momen restrukturisasi bagi induk BUMN perkebunan PT Perkebunan Nusantara (PTPN) III. Serangkaian upaya disiapkan demi menyehatkan kinerja sebagian anak usaha yang masih jauh dari harapan.
Iim Fathimah Timorria
Iim Fathimah Timorria - Bisnis.com
24 Desember 2019 | 15:12 WIB

Tahun 2020 bakal menjadi momen restrukturisasi bagi induk BUMN perkebunan PT Perkebunan Nusantara (PTPN) III. Serangkaian upaya disiapkan demi menyehatkan kinerja sebagian anak usaha yang masih jauh dari harapan.

Dari total 14 PTPN yang berada di bawah naungan PTPN Holding, 6 di antaranya mencatatkan kerugian pada 2018. Produktivitas tanaman perkebunan yang kian turun ditambah dengan kinerja operasional yang tak membaik serta beban utang menjadi segelintir penyebab kondisi ini.

Kondisi ini setidaknya terlihat dari performa PTPN XIII. Dalam rapat dengar pendapat dengan Komisi IV DPR RI pada Kamis (5/12), Direktur Utama PTPN XIII Alexander Maha bahkan tak enggan mengakui bahwa perusahaan yang dipimpinnya memperlihatkan kinerja terburuk di antara 13 PTPN lainnya.

“PTPN XIII yang paling hancur. Ini statement saya. Kami menerima aset-aset yang buruk. Produksi tidak ada. Tanaman tua yang harus diremajakan mencapai 22.143 hektare dan pengembangan yang dilakukan gagal,” kata Alexander.

Pendapatan perusahaan tercatat mengalami penurunan dari Rp2,47 triliun pada 2017 menjadi hanya Rp1,39 triliun  pada 2018 dengan kerugian yang bertambah dari Rp547,22 miliar pada 2017 menjadi Rp884,21 miliar. Sampai Oktober 2019, Alexander mengaku bahwa kerugian perusahaan telah mencapai Rp605 miliar.

Produksi sawit sebagai komoditas utama yang dikelola perusahaan yang berlokasi di Pulau Kalimantan ini pun memperlihatkan penurunan konstan selama kurun 2016–2018. Sempat menghasilkan minyak sawit mentah (CPO) sebanyak 44.587 ton pada 2016, jumlah tersebut lantas turun menjadi hanya 19.202 ton pada 2018.

Silakan masuk/daftar untuk melanjutkan membaca Konten Premium

Dan nikmati GRATIS AKSES 5 artikel Konten Premium!

Masuk / Daftar

Atau Berlangganan Sekarang

Silakan pilih paket berlangganan yang anda inginkan untuk terus menikmati konten premium.

Berlangganan Sekarang
Berbagai metode pembayaran yang dapat Anda pilih:
  • visa
  • mastercard
  • amex
  • JCB
  • QRIS
  • gopay
  • bank transfer
  • ovo
  • dana

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

Terpopuler

back to top To top