Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group
Pekerja melakukan proses pemurnian dari nikel menjadi feronikel di fasilitas pengolahan dan pemurnian (smelter) Pomalaa milik PT Aneka Tambang (ANTAM) Tbk, di Kolaka, Sulawesi Tenggara, Selasa (8/5/2018). - JIBI/Nurul Hidayat
Premium

Seteru Nikel di Panggung Global

25 November 2019 | 16:36 WIB
Uni Eropa melaporkan Indonesia ke World Trade Organization (WTO) terkait kebijakan pelarangan ekspor bijih nikel mulai Januari 2020.

Bisnis.com, JAKARTA — “Tidak ada kewajiban secara internasional yang memaksa Indonesia untuk mengekspor suatu produk karena suatu negara membutuhkan produk itu.”

Pernyataan itu disampaikan Wakil Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Shinta W. Kamdani kepada Bisnis, Minggu (24/11/2019). Saat itu, dia dimintai komentar terkait aksi Uni Eropa (UE) yang melaporkan Indonesia ke World Trade Organization (WTO) terkait pelarangan ekspor bijih nikel pada 2020.

UE melaporkan Indonesia ke WTO pada Jumat (22/11) waktu setempat. Komisi Eropa—yang mengkoordinasikan kebijakan perdagangan UE—mengatakan pelarangan ekspor bijih nikel Indonesia secara tidak adil membatasi akses UE terhadap bijih nikel, batu bara, kokas, bijih besi, dan kromium.

Komisi Eropa pun menuding pelarangan ekspor menjadi bagian dari rencana Indonesia untuk mengembangkan industri stainless steel dalam negeri secara tidak adil.

Ini sekaligus menjadi perseteruan kedua antara Indonesia dengan UE setelah sebelumnya pemerintah melawan diskriminasi minyak sawit di Benua Biru dengan mengajukan proses litigasi ke WTO.

Silakan masuk/daftar untuk melanjutkan membaca Konten Premium

Dan nikmati GRATIS AKSES 8 artikel Konten Premium!

Masuk / Daftar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top