Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group
Pekerja menyelesaikan pembuatan sandal dan sepatu di PT Aggiomultimex, Sidoarjo, Jawa Timur, Senin (25/9/2017). - ANTARA/Umarul Faruq
Premium

Menghitung Upah Demi Daya Saing dan Produktivitas

12 November 2019 | 12:50 WIB
Pemerintah diharapkan segera menyesuaikan dasar perhitungan kenaikan upah minimum agar tak membebani daya saing industri nasional.

Bisnis.com, JAKARTA — Pelaku usaha mengkhawatirkan kian tertekannya daya saing industri nasional dengan ditetapkannya Upah Minimum Sektoral Kota/Kabupaten (UMSK), di samping Upah Minimum Provinsi (UMP). Penyesuaian atas formulasi penetapan upah pun diharapkan segera dilakukan.

Ketua Umum Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Indonesia (Gapmmi) Adhi S. Lukman menilai jika formulasi yang berlaku saat ini dipertahankan, maka industri terancam mati lantaran tidak mampu bersaing dengan kompetitor dari negara lain.

Di sejumlah negara Asia Tenggara, jelas dia, kenaikan upah tenaga kerja hanya berkisar 2–3 persen per tahun.

“Kami tidak setuju ada UMP dan UMSK itu. Kami lebih setuju upah berdasarkan produktivitas,” ujar Adhi kepada Bisnis, Senin (11/11/2019).

Buruh pabrik garmen berjalan keluar pabrik di Citeureup, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Senin (20/2/2017)./Antara-Yulius Satria Wijaya

Menurutnya, formula peningkatan upah dengan dasar produktivitas menjadi solusi bagi pekerja dan pengusaha. Dengan dasar itu, pendapatan pekerja akan meningkat sejalan dengan peningkatan produksi.

Silakan masuk/daftar untuk melanjutkan membaca Konten Premium

Dan nikmati GRATIS AKSES 8 artikel Konten Premium!

Masuk / Daftar
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top