Produksi Baja China & Vietnam Naik, Pelaku Industri RI Siapkan Antisipasi

Meningkatnya produksi baja dari sejumlah negara, terutama China dan Vietnam, dinilai berpotensi meningkatkan arus impor produk tersebut.
Oktaviano DB Hana
Oktaviano DB Hana - Bisnis.com 05 September 2019  |  08:33 WIB
Produksi Baja China & Vietnam Naik, Pelaku Industri RI Siapkan Antisipasi
ilustrasi. - Reuters

Bisnis.com, JAKARTA – Meningkatnya produksi baja dari sejumlah negara, terutama China dan Vietnam, dinilai berpotensi meningkatkan arus impor produk tersebut.

Sejumlah langkah pun telah disiapkan para produsen bajal lokal guna mengantisipasi lonjakan arus produk baja dari negara-negara itu.

Mengacu pada data Asosiasi Baja Dunia (World Steel Association), produksi baja China pada periode Januari – Juli 2019 mencapai 577,06 juta ton. Realisasi itu meningkat 9% dibandingkan periode yang sama tahun lalu (year-on-year/yoy). Pada Januari – Juli 2018, produksi baja Negeri Tirai Bambu itu meningkat 6,3% (yoy) menjadi 529,35 juta ton.

Sepanjang tahun lalu, China menghasilkan 928,26 juta ton baja dan menempatkannya sebagai pemuncak daftar produsen baja dunia.

Sementara itu, data yang sama menunjukkan produk baja Vietnam meningkat 59,97% (yoy) menjadi 12,05 juta ton pada Januari -  Juli 2019. Pada periode yang sama tahun lalu, produk baja negara ini tecatat sebesar 7,69 juta ton atau bertumbuh 29,5% (yoy).

Ketua The Indonesian Iron & Steel Industry Association (IISIA) Silmy Karim mengatakan bahwa kondisi itu berpotensi meningkatkan impor produk baja dari kedua negara tersebut.

Vietnam juga dinilai menjadi ancaman lantaran produksinya telah melampaui kebutuhan di dalam negerinya. “Misalnya, baja untuk atap, baja lapis itu, Vietnam lagi merajalela,” ujarnya kepada Bisnis, Rabu (4/9/2019).

Silmy menilai produsen baja dalam negeri berada dalam posisi yang sulit dalam menghadapi serbuan impor tersebut.

Kendati demikian, mengatakan para pelaku usaha lokal mesti bersiap untuk menghadapinya. Salah satunya dengan melakukan efisiensi dan meningkatkan produktivitas.

“Efisiensi ini kan berkonsekuensi kepada berbagai macam hal. Tetapi ini sesuatu yang kami tidak bisa hindari,” kata Silmy yang juga menjabat sebagai Direktur Utama PT Krakatau Steel Tbk.

Di samping itu, dia mengatakan produsen lokal juga akan mengembangkan manajemen distribusi yang lebih baik. Langkah itu akan dibarengi dengan upaya pelaku usaha untuk menjaga konsumen yang sudah ada.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
industri baja

Editor : Galih Kurniawan

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top