Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group
Pekerja beraktivitas di proyek pembangunan pabrik Polyethylene (PE) baru berkapasitas 400.000 ton per tahun di kompleks petrokimia terpadu PT Chandra Asri Petrochemical Tbk (CAP), Cilegon, Banten, Selasa, (18/6/2019). - Bisnis/Triawanda Tirta Aditya
Premium

Industri Terintegrasi Jadi Kunci Pangkas Impor Manufaktur

06 Agustus 2019 | 16:46 WIB
Tidak terintegrasinya industri manufaktur di Indonesia, termasuk petrokimia, menjadi hambatan dalam upaya memutus ketergantungan impor bahan baku.

Bisnis.com, JAKARTA — Industri kimia merupakan sektor strategis. Sebagai manufaktur dasar, produknya digunakan oleh sektor lain, mulai dari industri plastik, cat, tekstil, elektronika, farmasi, kosmetika, hingga otomotif.

Peningkatan daya saing industri ini akan membuat manufaktur nasional kompetitif di pasar global.

Salah satu faktor penopang daya saing adalah struktur industri yang terintegrasi dari hulu hingga hilirnya. Untuk memperkuat sektor hulu, industri petrokimia pun telah menjadi target prioritas percepatan pembangunan pemerintah.

Perusahaan-perusahaan yang bergerak di bidang ini pun sudah mulai mempersiapkan diri. PT Chandra Asri Petrochemical Tbk. misalnya, akan menggelontorkan dana U$6 miliar sampai 2021 untuk menambah kapasitas butadiene dan polietilene. Fasilitas baru diproyeksikan menghasilkan 1,8 juta ton per tahun atau dua kali lipat dari kapasitas saat ini.

Fasilitas baru tersebut juga ditargetkan menghasilkan tambahan Nafta cracking sekitar 100.000—150.000 ton karet sintetis setelah 2023.

Silakan masuk/daftar untuk melanjutkan membaca Konten Premium

Dan nikmati GRATIS AKSES 8 artikel Konten Premium!

Masuk / Daftar
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top