Jokowi, Masayoshi, dan Adu Strategi Era Disrupsi

Konglomerasi Softbank sudah mendunia. Kehadiran Masayoshi Son khusus ke Indonesia tentunya menyiratkan kepentingan jangka panjang di negeri yang masih berstatus berkembang dalam kancah perekonomian digital.
Kahfi
Kahfi - Bisnis.com 31 Juli 2019  |  07:00 WIB
Jokowi, Masayoshi, dan Adu Strategi Era Disrupsi
30/jul/19/bisnisgrafik/soft/bank/ilham

Bisnis.com, JAKARTA -- Boleh jadi, sewaktu merintis Didi Chuxing, Cheng Wei tak pernah terpikir untuk melepas anak kandungnya tersebut. Didi Chuxing, lahir sebagai usaha rintisan berbasis digital yang melayani transportasi di China.

Seturut dengan itu, di peta persaingan global, Imperium SoftBank Group semakin agresif. SoftBank yang didirikan Masayoshi Son, seperti elang yang memiliki mata dan cengkeraman tajam.

Hampir selalu, usaha-usaha rintisan di banyak negara menyerah kalah. Mereka menyodorkan kepemilikan baru kepada SoftBank.

Didi Chuxing juga tak bisa mengelak. Meski awalnya Cheng menampik tawaran SoftBank karena telah mengantongi modal senilai US$10 miliar, Didi tetap diterkam Son. Cheng mengalah dan mengambil investasi US$5 miliar dalam putaran penggalangan dana terbesar yang pernah ada untuk sebuah startup teknologi.

Chief Executive SoftBank Group Corp Masayoshi Son menghadiri sebuah konferensi pers di Tokyo, Jepang, Senin (5/11/2018)./Reuters-Kim Kyung-hoon

Gampang buat Son, dia hanya melayangkan tawaran kepada Cheng. Jika tawaran itu ditolak, SoftBank berjanji investasi itu akan digelontorkan kepada rival Didi Chuxing.

Hal itu serupa mimpi buruk buat Cheng. Alih-alih bertahan, Didi pun diserahkan Cheng kepada SoftBank.

Jurus yang sama digunakan Son ketika menekan Uber Technologies. Perusahaan transportasi berbasis digital asal Amerika Serikat (AS) itu ikut menyerah.

SoftBank memberikan aba-aba jika suntikan modal sebesar US$9 miliar ditolak Uber, maka dana jumbo itu beralih ke pesaingnya, Lyft. Alhasil, Uber tercatat menambah koleksi kepemilikan SoftBank di sektor transportasi.

SoftBank jadi imperium pendanaan terbesar di dunia saat ini. Predikat sebagai pemburu usaha rintisan digital disematkan kepada Masayoshi Son.

Pondasi kuat SoftBank digalang investor kakap global. Son berhasil melibatkan Putra Mahkota Arab Saudi Pangeran Mohammed Bin Salman dan CEO Apple Tim Cook guna meluncurkan program pendanaan berjuluk Vision Funds senilai US$100 miliar.

Bermodal dana tak terbatas itu, SoftBank dengan mudah melahap usaha-usaha rintisan global. Melalui dana tersebut, Son punya obsesi perusahaan yang awalnya berdiri sebagai distributor perangkat lunak itu menjelma menjadi pemain besar industri digital maupun kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI).

Son tak mengenal kata gagal. Walau sempat terantuk karena kegagalan ratusan investasi pada periode 1980-1990, akhirnya SoftBank jadi raksasa pendanaan global pada saat ini.

Salah satu faktor kunci sukses SoftBank tak lain investasi yang digelontorkan kepada Alibaba Group. Kini, Alibaba merupakan salah satu raja bisnis digital dari China.

Paling spektakuler, Son semakin ekspansif dalam beberapa tahun belakangan. Bahkan dalam setahun, SoftBank pernah tercatat melakukan 100 investasi dengan nilai US$36 miliar, melebihi kekuatan investasi dari penghuni elite Sillicon Valley, Sequoia Capital dan Silver Lake.

Menko bidang Maritim Luhut Panjaitan (tengah) berbincang dengan CEO Grab Anthony Tan (kedua kiri), Founder dan CEO Softbank Masayoshi Son (ketiga kiri), CEO Tokopedia William Tanuwijaya (kanan) dan President of Grab Indonesia Ridzki Kramadibrata (kedua kanan) usai bertemu Presiden Joko Widodo di Istana Merdeka, Jakarta, Senin (29/7/2019)./ANTARA-Puspa Perwitasari

Pertemuan Son
Selama Juli 2019, Son telah melakukan pertemuan dengan para eksekutif perusahaan di Korea Selatan (Korsel). Dia juga berkesempatan bertemu dengan Presiden Korsel Moon Jae-in.

Akhir bulan ini, giliran Presiden Joko Widodo atau Jokowi yang menyambut kedatangannya di Jakarta. Seiring dengan digitalisasi berbagai sektor, yang kemudian dikenal sebagai Revolusi Industri 4.0, sosok Son punya peran vital dalam perekonomian global.

Dia kini masuk dalam jajaran orang terkaya di dunia. Kekayaannya, sebagaimana diperkirakan Bloomberg, mencapai US$18,9 miliar.

Di Jepang, Son menempati peringkat kedua orang terkaya dan hanya kalah dari pendiri Uniqlo, Tadashi Yanai, yang mempunyai kekayaan mencapai US$31,4 miliar.

Kedatangan bos SoftBank itu pun menjanjikan sejumlah investasi di Indonesia. Apalagi, jika dihitung-hitung, Indonesia merupakan salah satu negara dengan geliat usaha rintisan paling banyak di Asia Tenggara, setelah Singapura.

Lebih jauh, SoftBank pun telah mencaplok perusahaan rintisan yang cukup mempunyai prospek, Tokopedia. Sejurus dengan hal tersebut, operasi Grab yang disokong SoftBank pun tengah bergeliat di Indonesia.

Dari sepak terjang investasi yang dilakoni, SoftBank paling getol melahap usaha rintisan transportasi berbasis digital. Kini, di dunia, hanya beberapa aplikasi transportasi yang tersisa di luar penguasaan SoftBank, termasuk Go-Jek.

Mulai dari Didi Chuxing, Ola India, Uber AS, Grab Malaysia, hingga 99 asal Brasil, jatuh ke pelukan SoftBank. Masih jelas jejak Uber yang terpaksa hengkang akibat strategi SoftBank untuk mendorong Grab secara operasional menangani kawasan Asia Tenggara.

Di sisi lain, SoftBank berjanji akan menggelontorkan investasi segar senilai US$2 miliar di Indonesia. Son menjelaskan investasi itu akan dilakukan lewat Grab serta melalui perusahaan lain.

"Kami akan membangun kantor pusat kedua Grab di Indonesia dan menjadikannya unicorn kelima serta berinvestasi US$2 miliar melalui Grab. Lebih dari itu, kami akan investasi lebih banyak di Indonesia," lanjutnya.

Pengemudi ojek online menunggu penumpang di dekat Stasiun Jakarta Kota, Jakarta, Kamis (11/7/2019)./Bisnis-Himawan L Nugraha

Tantangan dan Peluang
Guru Besar Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia (UI) Rhenald Kasali melihat kedatangan Son memberikan peluang juga tantangan bagi pembangunan ekonomi ke depan. Menurutnya, seluruh struktur ekonomi konvensional pada hari ini, mendapatkan tantangan dari proses digitalisasi.

Persoalannya, lanjut Rhenald, mayoritas dunia usaha maupun pemerintah dan regulator lainnya masih berparadigma lama.

“Saat ini, sudah masuk era #MO [Mobilisasi dan Orkestrasi], di mana kampanye marketing dan layanan yang masih konvensional kalah jauh dengan yang dihasilkan dengan mobilisasi, misal tagar di sosial media,” ungkapnya kepada Bisnis, akhir pekan lalu.

Rhenald mencontohkan salah satu merek otomotif yang berhasil dalam pameran Gaikindo Indonesia International Automotive Show (GIIAS) 2019, dengan cara mengoptimalkan kampanye sosial media dengan konten kreatif.

“Mereka sebarkan video bertagar dengan konten menarik, maka berbondong konsumen datang ke lapak pamerannya,” tambah penulis buku “Disrupsi” itu.

Bagi Rhenald, pertemuan Jokowi dan Son menandai babak baru perekonomian Indonesia.

“Pak Jokowi akan menjelaskan peta jalan Revolusi Industri 4.0, sedangkan Son akan mendorong masukan untuk penciptaan ekosistem yang kondusif,” ucapnya.

Ilustrasi logo revolusi industri 4.0./Reuters-Wolfgang Rattay

Sayangnya, seluruh lapisan pemangku kepentingan dinilai masih berjalan lamban untuk menjejak lanskap baru perekonomian itu. Hari ini, tegas Rhenald, seluruh produk industri multisektor mulai bergerak ke arah interkoneksi serta teknologi yang smart.

“Jadi kalau industri tidak berubah juga, maka wajar jika ada misal industri tekstil yang tutup, rontok, begitupun sektor lainnya. Intinya, produk seharusnya tidak berdiri sendiri, gedung dibuat harus mengakomodir dinamika digitalisasi, tidak dibangun hanya menjadi sunk cost,” paparnya.

Pembenahan Struktur
Untuk mempercepat laju digitalisasi ekonomi nasional, banyak sektor wajib dibenahi. Rhenald menilai dari sisi pemerintah ataupun regulator, selayaknya kinerja cakap ditandai dengan ketangkasan, kecepatan, dan ketepatan sesuai tuntutan perkembangan teknologi digital belakangan ini.

Begitupun dari sisi pengusaha dan akses usaha rintisan. Sejauh ini, gelontoran investasi asing yang mengalir deras ke sektor kreatif menandakan belum longgarnya aturan pendanaan usaha rintisan di Tanah Air.

“Pinjaman di perbankan, itu harus ada collateral. Sementara itu, usaha rintisan misal seperti Grab dan Go-Jek, aset mereka itu ringan bukan heavy,” tuturnya.

Pembenahan ini pun untuk mengantisipasi jatuhnya korban dari roda digitalisasi yang terus bergulir. Memori kelam bentrokan pengemudi taksi konvensional versus ojek daring merupakan pelajaran bagi pemerintah.

Di lain sisi, Rhenald menyadari strategi agresif yang kerap dilancarkan SoftBank. Usaha yang kini diawaki Son itu memang dikenal memegang prinsip winner takes all yang ditopang modal jumbo.

Untuk menghalau kecenderungan adanya persaingan tak sehat dan mengarah monopoli, pemerintah harus jeli.

“Misal, memang mereka mau beli usaha rintisan lain, tapi memang tidak ada, jadi seolah ada winner takes all. Tetapi secara regulasi, lembaga seperti Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) harus mencermati terus, tidak asal. Jika memang melanggar, harus disemprit,” tegasnya.

Karyawati menerima telepon di kantor Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU), di Jakarta, Kamis (18/7/2019)./Bisnis-Himawan L Nugraha

Kisah serupa, tambah Rhenald, pernah menimpa Singtel dan Temasek, yang merupakan perusahaan anak dan pemilik saham. Singtel membeli Telkomsel, sedang Temasek mencaplok Indosat, sehingga pemerintah mewajibkan mereka melepas salah satu perusahaan telekomunikasi di Indonesia itu.

Rhenald juga mewanti-wanti agar lembaga pemerintah seperti KPPU lebih cermat dalam dunia persaingan usaha era digital.

“Mungkin kalau Grab dan Go-Jek, awalnya sama masuk lewat transportasi, tetapi belakangan model bisnis keduanya agak berbeda. Jadi, harus hati-hati menentukan keputusan KPPU,” tutupnya.

Kunjungan Son ke Indonesia pasti membawa banyak misi, tercatat dari Korsel, sang bos mengkhususkan langsung datang ke sini. Ada banyak peluang yang tengah dibidik SoftBank, semoga saja tak mematikan perkembangan usaha rintisan dari dalam negeri.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
softbank, ekonomi digital, fokus

Editor : Annisa Margrit

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top