Ekonomi Digital, Magnet Baru Bagi Investasi Asing

Ekonomi digital perlahan mengikis peran sektor konvensional seperti pertambangan dan industri dalam kontribusi aliran modal asing.
Kahfi
Kahfi - Bisnis.com 25 Juli 2019  |  16:37 WIB
Ekonomi Digital, Magnet Baru Bagi Investasi Asing
Infografis Bisnis dotcom/Eko

Bisnis.com, JAKARTA -- Sewaktu investasi baru sektor lainnya cekak, ekonomi digital bersama dengan sektor pergudangan dan transportasi, mencatatkan pertumbuhan mengesankan.

Presiden Joko Widodo telah mengutarakan visi pembangunan periode kedua. Salah satu yang digarisbawahi adalah, memberantas hambatan investasi.

Minimnya investasi, membuat pemerintah bakal kelimpungan. Laju produksi hingga ekspor akan melambat, bersamaan pula tingkat pengangguran ikut melonjak.

Hanya saja, pada sudut berbeda, tampak adanya tren arah investasi asing yang tak lagi melulu lari ke sektor pertambangan ataupun industri. Pemerintah telah cukup berhasil mendongkrak pembangunan infrastruktur yang menjadikan beberapa sektor seperti transportasi, pergudangan, dan telekomunikasi sebagai primadona baru bagi investasi asing.

Aktivitas penambangan batu bara di Tambang Air Laya, Tanjung Enim, Sumatra Selatan, Minggu (3/3/2019)./Bisnis-Felix Jody Kinarwan

Rekapitulasi data Penanaman Modal Asing (PMA) boleh jadi menimbulkan kerisauan bagi pemerintah. Pasalnya, PMA mengalami penurunan sebesar 9 persen pada tahun lalu.

Nilai keseluruhan PMA tersebut sebesar US$29,3 miliar. Investasi paling besar masih digelontorkan kepada sektor listrik, gas, dan air.

Sektor tersebut menjadi primadona sejak 2017, dan berkaitan erat dengan proyek elektrifikasi nasional yang massif. Tren tersebut berlanjut hingga kuartal pertama tahun ini, di mana PMA sektor listrik, gas dan air mencapai US$1,52 miliar atau 25 persen dari total investasi asing yang sebesar US$6,08 miliar.

Sektor usaha lainnya yang jadi magnet bagi investasi asing yaitu transportasi, pergudangan, dan telekomunikasi. Beberapa pihak menengarai laju pertumbuhan signifikan sektor tersebut berkenaan dengan imbas pembangunan infrastruktur dari pemerintah.

Pembangunan infrastruktur seolah menghidupkan nadi bisnis sektor logistik yang memungkinkan pembangunan pusat pergudangan baru. Tetapi, lebih jauh terdapat geliat baru yang menunjukkan bergesernya arah perekonomian nasional, yakni perkembangan ekonomi digital.

Sektor Information and Communication Technologies (ICT) secara nyata menggeliat di banyak negara, termasuk kawasan Asean. Aliran PMA pun disinyalir deras merambah sektor usaha rintisan berbasis digital tersebut.

Pada periode 2016-2018, rata-rata PMA yang masuk ke sektor transportasi, pergudangan, dan telekomunikasi sebesar US$3 miliar. Geliat investasi asing ke sektor tersebut pun mengalahkan sektor manufaktur, khususnya industri makanan.

Hingga saat ini, sektor industri makanan belum beranjak membaik. Hal ini ditandai dengan merosotnya PMA yang diserap sektor tersebut, dari kisaran US$3 miliar pada 2014, menjadi US$1,3 miliar pada tahun lalu.

Teknisi melakukan perawatan jaringan di salah satu menara BTS, di Bandung, Jawa Barat./JIBI-Rachman

Sementara itu, sektor pertambangan yang selama ini merupakan lahan terbesar penjaring investasi asing, mulai surut. Setidaknya, dari kisaran PMA yang mengalir setiap tahun ke sektor tersebut sebesar US$4 miliar, kini terkikis hanya menyisakan US$3,03 miliar.

Bahkan, pada kuartal I/2019, sektor pertambangan sama sekali tak mencuat di peringkat lima terbesar kontribusi PMA. Merujuk data tersebut, maka terlihat tren PMA yang mulai bergeser.

Terlebih lagi, secara catatan pertumbuhan, kini sektor transportasi, pergudangan, dan ICT mencatatkan pertumbuhan paling besar, yakni mencapai 60 persen pada 2018. Sejalan dengan itu, sektor itu telah meraih PMA sebesar US$1,02 miliar, atau sekitar 16,8 persen total PMA yang mengalir masuk pada periode Januari-Maret 2019.

Tren tersebut sejalan dengan analisis “Asean Report Investment 2018” yang diterbitkan Sekretariat Asean dan United Nations Conference on Trade and Develpoment (UNCTAD). Laporan itu dirilis pada November tahun lalu.

Berdasarkan laporan itu, Foreign Direct Investment (FDI) untuk seluruh Asean mengalami peningkatan dari sebesar US$123 miliar pada 2016, menjadi US$137 miliar. Laju pertumbuhan FDI itu menyentuh 20 persen.

Justru, berkat aliran deras FDI tersebut, Asean menjaring 34 persen total investasi asing yang beredar di kawasan Asia Pasifik. Sebagaimana dicatat laporan tersebut, penopang utama laju pertumbuhan FDI yang sangat cepat di kawasan Asean adalah geliat ekonomi digital.

Konsumen memilih produk di salah satu situs berjualan online saat program 12.12 di Kerten, Laweyan, Solo, Rabu (12/12/2018)./JIBI-M. Ferri Setiawan

Apalagi, seperti yang dituliskan Sekretaris Jenderal Asean Dato Lim Jock Hoi, peningkatan itu terlihat dari perkembangan penting yang meliputi e-commerce, financial technology (fintech), modal ventura, dan aktivitas digital lainnya seperti pengembangan pusat data dan berbagai Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK).

Menurut Lim , perusahaan-perusahaan digital asing dan Asean kini meningkatkan perhatian pada wilayah ini.

“Proyek investasi TIK non manufaktur greenfield [fasilitas/produksi baru] telah tumbuh dengan cepat dari US$2,8 miliar pada 2010 menjadi US$3,9 miliar pada 2017, sedangkan merger dan lintas batas TIK akuisisi naik dari hanya US$172 juta pada 2010 menjadi US$3,6 miliar pada 2017,” tulisnya.

Tren Terbaik
Berdasarkan laporan yang sama, posisi Indonesia pun dalam tren terbaik guna menggaet PMA yang lebih besar dari sektor telekomunikasi digital. Indonesia, bersama Singapura dan Thailand, merupakan tiga negara yang paling banyak menyerap FDI di Asean.

Laju investasi sektor digital ini pun diproyeksi masih melanjutkan tren positif ke depan. Pasalnya, makin hari makin banyak perusahaan digital lokal yang bahu membahu dengan investor asing untuk memperluas infrastruktur telekomunikasi dan layanan ekonomi digital lainnya.

“Mereka telah berinvestasi rata-rata US$10 miliar per tahun selama 12 tahun terakhir dalam infrastruktur telekomunikasi dan diperkirakan akan menyumbang US$13 miliar setiap tahun hingga 2030 untuk mendukung infrastruktur, memperluas cakupan, memenuhi permintaan data, dan meningkatkan teknologi,” singkap laporan tersebut.

Menkominfo Rudiantara (tengah), Ketua Dewan Komisioner OJK Wimboh Santoso (kanan) dan Kepala BKPM Thomas Lembong memberikan paparan dalam diskusi Forum Merdeka Barat (FMB) 9 bertajuk 'Investasi Unicorn untuk Siapa?' di Jakarta, Selasa (26/2/2019)./Bisnis-Felix Jody Kinarwan

Hal serupa juga disadari Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Thomas Trikasih Lembong. Dia mengungkapkan pesatnya perkembangan teknologi digital perlahan mengubah lanskap investasi di Indonesia.

Thomas menilai perkembangan itu telah mengubah pola usaha dari offline menjadi online dan mengalami pertumbuhan sangat signifikan.

“Tahun lalu, laju global FDI turun. Hingga awal tahun ini, kita sudah melihat investasi mulai kenceng lagi. Ekonomi digital kita tumbuh dengan sangat pesat,” ujarnya, beberapa waktu lalu.

Ekonomi digital memberikan harapan baru bagi negeri ini, terutama dengan kelahiran usaha rintisan yang berjaya menggaet investor global seperti Go-Jek dan Traveloka. Tugas pemerintah untuk menstimulus kelahiran sebanyak-banyaknya usaha digital setaraf global tersebut.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
investasi asing, fokus, ekonomi digital

Editor : Annisa Margrit

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top