Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group
Ilustrasi aktivitas pengeboran migas di Laut Natuna Selatan. - MedcoEnergi.com
Premium

Menanti Revisi UU Migas demi Revitalisasi Sektor Migas Indonesia

22 Maret 2019 | 17:21 WIB
Migas masih menjadi andalan Indonesia untuk mendulang devisa dan menjaga neraca dagang. Namun, ada berbagai faktor yang menjadi tantangan dalam produksi migas Tanah Air.

Bisnis.com, JAKARTA – Kemudahan investasi pada sektor hulu yang masih rendah dianggap menjadi salah satu sebab minimnya produksi migas di Indonesia, saat ini. Untuk mengatasinya, pembahasan revisi Undang-Undang (UU) UU Nomor 22 Tahun 2001 tentang Minyak dan Gas Bumi yang saat ini masih dilakukan pemerintah diharapkan cepat selesai.

Direktur Program Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Berly Martawardaya mengatakan revisi UU Migas menjadi kunci untuk meningkatkan produksi migas nasional. Pasalnya, rancangan beleid itu memuat sejumlah aturan baru demi pengembangan sektor hulu migas seperti pembentukan Badan Usaha Khusus (BUK) dan penyebutan skema gross split untuk perhitungan bagi hasil kontrak pengelolaan wilayah kerja migas di Indonesia.

“Saya kira paling lambat 2020 [revisi UU Migas disahkan], kalau enggak, kita kelewatan terus. Kemudian, perlu dibentuk Dana Abadi Energi,” ujarnya dalam diskusi bertajuk Mencari Solusi Revitalisasi Sektor Migas di Indonesia, di Jakarta, Kamis (21/3/2019).

Berdasarkan data yang dihimpun INDEF dari Survei Minyak Bumi Internasional (Global Petroleum Survey) 2018 versi Fraser Institute, tingkat kemudahan investasi sektor hulu migas di Indonesia berada di urutan 10 terbawah dari 80 negara. Indeks Persepsi Kebijakan sektor hulu migas di Indonesia hanya memiliki skor 47,16, kalah dari Nigeria (53,15), Aljazair (57,73), Mozambik (57,92), dan negara-negara lainnya.

Sejak 2014, nilai investasi sektor hulu untuk produksi migas terus turun, dari US$12,25 miliar menjadi US$4,15 miliar pada 2018. Investasi untuk eksplorasi lahan migas juga turun dari US$2,61 miliar menjadi US$345 juta pada periode yang sama.

Penurunan investasi berdampak pada stagnannya produksi migas nasional. Padahal, konsumsi migas setiap tahun selalu bertambah.

Silakan masuk/daftar untuk melanjutkan membaca Konten Premium

Dan nikmati GRATIS AKSES 8 artikel Konten Premium!

Masuk / Daftar
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top