Mi Instan dan Popularitas Indonesia di Mata Dunia

Meski terkadang dipandang sebagai makanan tidak sehat, tapi tak bisa dipungkiri jika mi instan merupakan kebanggaan tersendiri bagi Indonesia.
Lalu Rahadian
Lalu Rahadian - Bisnis.com 20 Februari 2019  |  14:54 WIB
Mi Instan dan Popularitas Indonesia di Mata Dunia
Infografis konsumsi mi instan dunia. - Bisnis/Radityo Eko

Bisnis.com, JAKARTA – Mi instan bisa jadi adalah makanan paling populer di seluruh dunia saat ini. Rasanya enak dan praktis dimasak serta dibawa ke mana saja.

Tetapi, seandainya Jepang tidak kalah di Perang Dunia II, mungkin dunia tidak akan mengenal mi instan.

Mengapa? Mi instan pertama kali muncul di Jepang pada 1958 atau 13 tahun setelah Jepang mengaku kalah pada Perang Dunia (PD) II.

Adalah Momofuku Ando yang pertama kali menciptakan mi instan. Kreasinya itu dinamakan “Chicken Ramen” dan, ketika diperkenalkan ke masyarakat, langsung menjadi sensasi dan bahkan disebut sebagai “magic ramen” alias mi ajaib.

Seorang anak membuat mi di Chicken Ramen Factory di museum Cup Noodles di Yokohama, Jepang./Reuters

Sejak saat itu, produksi dan konsumsi mi instan perlahan menyebar ke seluruh penjuru dunia. Meski kalah pada PD II, Jepang terbukti berhasil “menaklukkan” dunia dengan jenis makanan ini.

World Instant Noodles Association (WINA) mencatat pada 2017, ada 100,1 miliar porsi mi instan yang dikonsumsi di seluruh dunia. Rata-rata 270 juta porsi dikonsumsi setiap harinya.

Negara pemakan mi instan terbanyak di dunia saat ini adalah China dan Hong Kong, dengan tingkat konsumsi mencapai 38,97 juta porsi per tahun. Di peringkat kedua, ada Indonesia yang masyarakatnya mengonsumsi 12,62 juta porsi mi instan setiap tahun.

Penduduk Jepang, selaku negara tempat lahirnya penganan ini, “hanya” mengonsumsi 5,66 juta porsi setiap tahun. Jumlah itu menempatkan Jepang di posisi ketiga.

Mayoritas mi instan memang dilahap oleh penduduk di Benua Asia. Namun, tidak sedikit masyarakat di benua lain yang juga mengonsumsi makanan yang terbuat dari gandum itu.

WINA memprediksi pertumbuhan pesat konsumsi mi instan akan terjadi di Benua Afrika dan kawasan Timur Tengah dalam beberapa tahun ke depan.

Prediksi itu tidak muncul tanpa alasan. Berdasarkan data yang dimiliki WINA, tingkat konsumsi mi instan di Afrika tercatat selalu naik.

Contohnya, konsumsi mi instan di Nigeria meningkat dari 1,43 juta porsi pada 2013 menjadi 1,76 juta porsi pada 2017.

Mie Instan Indonesia
Selain dikenal sebagai salah satu negara dengan konsumsi mi instan terbesar di dunia, Indonesia juga sudah punya nama di pasar mi instan sebagai produsen global.

Tengok saja ke Youtube dan hitung ada berapa banyak video tantangan yang melibatkan mi instan asal Indonesia. Tantangan yang dilakukan tak hanya dilakukan oleh orang Indonesia, tapi juga oleh orang-orang di luar negeri.

Bicara soal mi instan asal Indonesia, rasanya tak mungkin tak menyebut Indomie. Merek mi instan ini bisa dibilang yang paling terkenal, termasuk di luar negeri.

Konsumen memilih mi instan di sebuah supermarket di China./Reuters-Jason Lee

Saking berpengaruhnya merek itu, pemerintah daerah Sokoto di Nigeria bekerja sama dengan Unicef untuk mengerek tingkat vaksin di kawasan tersebut. Mereka memberikan Indomie kepada anak-anak berusia lima tahun dan di bawahnya yang bersedia diimunisasi.

Mengutip The Nigerian Tribune, awalnya petugas hanya menargetkan 58.813 anak. Namun, ternyata yang datang jauh lebih banyak.

Populernya produk tersebut di Nigeria bisa jadi menunjukkan alasan pertumbuhan konsumsi mi instan di negara Afrika Barat itu.

Di negara yang lebih dekat dengan Indonesia, yakni Australia, pemerintahnya mengimpor mi instan senilai 500.000 dolar Australia untuk suplai selama dua tahun. Bila dikonversi ke rupiah, angka itu setara dengan lebih dari Rp5 miliar.

Seperti dilansir 9News Melbourne, mi instan menjadi salah satu makanan ringan yang dapat dibeli para tahanan di penjara Australia. Para tahanan diperbolehkan membeli mi instan dengan menggunakan uang hasil melakukan berbagai pekerjaan di penjara.

Meski PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk. (ICBP) tak memiliki pabrik di Afrika, tapi penetrasi produk mereka ternyata sukses besar.

Dalam materi hasil paparan publik pada 18 September 2018 yang disampaikan di laman resmi Bursa Efek Indonesia (BEI), produsen Indomie itu menyatakan mereka hanya memberikan lisensi penggunaan merek dan bantuan teknis bagi pabrik yang memproduksi Indomie di Afrika.

Sejumlah pabrik yang memproduksi mi instan milik Grup Indofood juga bisa ditemukan di Nigeria, Saudi Arabia, Suriah, Mesir, Sudan, Ethiopia, Kenya, Maroko, Turki, dan Serbia.

Untuk ekspor hingga 2017, kurang dari 10% total produksi mi instan dari Grup Indofood yang diekspor ke sejumlah negara. Meski demikian, produk andalannya ini dikirim ke setidaknya 60 negara.

Dari laporan tersebut juga bisa dilacak berapa sumbangsih Indomie terhadap total ekspor Indofood. Dari total pendapatan sebesar Rp29,47 triliun pada periode Januari-September 2018, sekitar Rp19,3 triliun di antaranya berasal dari penjualan produk mi instan atau 65,47%.

Porsi itu melebihi kontribusi penjualan produk dairy yang sebesar Rp5,83 triliun, makanan ringan Rp2,02 triliun, penyedap makanan Rp1,02 triliun, nutrisi dan makanan khusus Rp608,95 miliar, serta minuman Rp1,46 triliun.

ICBP memang bukan satu-satunya produsen mi instan di Indonesia. Ada PT Wings yang memproduksi mi instan merek Mie Sedaap, PT Heinz ABC Indonesia dengan produk Mie ABC, dan PT Mayora Indah Tbk. (MYOR) yang memproduksi Bakmie Mewah.

Rasa yang ditawarkan ke konsumen pun sangat beragam, mulai dari rasa yang "normal" semacam soto ayam hingga yang tidak biasa semacam rasa Chitato. Rasa-rasanya, varian baru mi instan selalu muncul setiap tahun.

Tetapi, belum diketahui dengan pasti berapa jumlah penjualan mi instan dari produsen selain Indofood. Bisnis sudah mencoba meminta data yang sama ke Wings, tapi perusahaan tak bisa memberikan informasi terkait.

Adapun data Badan Pusat Statistik (BPS) menyebutkan ekspor produk mi instan mencapai 121.988.025 kilogram (kg) per November 2018 atau senilai US$190,04 juta. Volumenya meningkat jauh di atas realisasi ekspor sepanjang 2017 yang sebanyak 108.026.392 kg, yang bernilai US$180,94 juta.

Petugas Balai Besar Obat dan Makanan (BPOM) dan Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Barat memeriksa mi instan di salah satu pusat perbelanjaan di Padang, Sumatra Barat, Senin (19/6/2017)./Antara-Muhammad Arif Pribadi

Warung Mi
Kehadiran “warung” berkonsep kafe dengan menu utama mi instan macam Warunk Upnormal dan Akademie di sejumlah daerah juga seakan “menaikkan” lagi derajat mi instan.

Jika sebelumnya warung mi identik dengan kios kecil di pinggir jalan—yang menunya termasuk bubur ketan hitam, bubur kacang hijau, dan kopi—maka di “warung” modern itu konsumen bisa sekaligus bekerja, mengerjakan tugas kuliah, atau sekadar browsing internet dengan Wi-Fi gratis yang disediakan.

Mengutip dari Tempo, Selasa (19/2/2019), Manager Pengembangan Bisnis CRP Group Vini Primanti mengatakan awalnya pihaknya memang menyasar anak-anak muda. Namun, sekarang keluarga juga banyak yang pelanggan Warunk Upnormal.

Hingga saat ini, setidaknya ada 77 cabang Warunk Upnormal di lebih dari 20 kota seluruh Indonesia.

Saking ramainya bisnis ini, berembus kabar bahwa “warung” modern tersebut di-endorse langsung oleh para produsen mi instan.

Terlepas dari perdebatan soal sehat tidaknya makanan yang satu ini, kepopuleran mi instan buatan lokal di dalam dan luar negeri seakan menggambarkan bahwa produk tersebut masih akan tetap menjadi “kebanggaan” Indonesia di masa depan.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
fokus, mi instan

Editor : Annisa Margrit

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top