Eka Tjipta Widjaja, Membangun Kerajaan Bisnis dari Rahim Kekayaan Alam Indonesia

Pada Sabtu (26/1/2019), pendiri Sinar Mas Group Eka Tjipta Widjaja meninggal dunia. Perjalanan hidup dan kisah bisnisnya bermula ketika dia pertama kali tiba di Indonesia hampir sembilan dekade lalu.
Kahfi | 28 Januari 2019 12:15 WIB
Kerabat memberikan penghormatan terakhir kepada pendiri Sinar Mas Group Eka Tjipta Widjaja di Rumah Duka Sentosa RSPAD, Jakarta, Minggu (27/1/2019). Jenazah akan disemayamkan di rumah duka tersebut hingga Sabtu (3/2). - JIBI/Abdullah Azzam

Bisnis.com, JAKARTA -- Pada Sabtu (26/1/2019), pendiri Sinar Mas Group Eka Tjipta Widjaja meninggal dunia. Perjalanan hidup dan kisah bisnisnya bermula ketika dia pertama kali tiba di Indonesia hampir sembilan dekade lalu.

Eka Tjipta pertama kali menjejak Indonesia pada 1931. Ketika itu, dia bersama sang ibu tiba di Indonesia setelah bermigrasi dari China.

Eka Tjipta pertama-tama tinggal di Makassar, Sulawesi Selatan (Sulsel). Sejak semula, dia mempunyai karakter pekerja keras, pantang menyerah.

Hal ini dibuktikan dari perkembangan Sinar Mas Group, yang tidak hadir dalam semalam. Eka Tjipta merintis kerajaan bisnisnya itu dari nol.

Eka Tjipta Widjaja ketika muda./Youtube Sinar Mas Group
 
Hidupnya yang penuh perjuangan dimulai dari usaha kecil-kecilan, berdagang keliling dengan mengayuh sepeda di Makassar. Barang dagangannya pun sederhana, sekadar biskuit dan permen.

Lambat laun, dia berupaya mengubah nasib, melirik banyak celah bisnis yang terhampar dari melimpahnya komoditas alam di Indonesia.
 
Pada 1961, keuletan Eka Tjipta mulai berbuah. Indonesia yang kaya dan subur, termasuk penghasil kopra, membuat dirinya melirik usaha di sektor tersebut.
 
Kopra komoditas alam itu menjadi barang yang mempunyai nilai lebih di tangan Eka Tjipta. Untuk meneguhkan pondasi bisnis di sektor itu, terbentuklah CV Sinar Mas pada 1962 di Surabaya.
 
Kemajuan pesat di bisnis kopra tak meredakan semangatnya. Setelah kopra, potensi alam lainnya, yaitu produksi minyak goreng, menjadi sasaran berikutnya.

Aktivitas di pabrik Asia Pulp and Paper (APP)./asiapulppaper.com
 
Bisa dikatakan jika Indonesia mempunyai keunggulan dari ketersediaan bahan baku dalam rantai pasok bisnis minyak goreng. Melalui PT Kunci Mas pada 1968, Eka Tjipta sekali lagi berhasil memaksimalkan potensi alam tersebut.
 
Memasuki dekade 1970-an, dia merambah ke lini bisnis lain. Masih segaris dengan memanfaatkan kekayaan dan kesuburan alam Indonesia, dia mendirikan pabrik kertas Tjiwi Kimia.
 
Tak ada yang sia-sia dari hasil menggali nilai lebih dari kekayaan bangsa ini dan Eka Tjipta mampu memperluas cakupan bisnisnya. Pada 1986, dibentuk Sinar Mas Forestry yang bertugas mengelola perusahaan-perusahaan hutan tanaman industri yang beroperasi di Sumatra dan Kalimantan. 

Kini, tangan dingin Eka Tjipta telah melahirkan raksasa bisnis yang memanufaktur hasil kebun dan hutan. Monumen hidup itu bernama Asia Pulp & Paper (APP) yang mempunyai jangkauan pemasaran hingga  120 negara di 6 benua.

Salah satu sudut BSD City pada malam hari./Istimewa
 
Sayap bisnis yang bertolak dari kecerdikan mengoptimalkan potensi alam, sekarang berjejaring hingga ke sektor properti dan keuangan. Tercatat pada 1982, didirikan PT Internas Artha Leasing Company yang telah menjelma sebagai induk perusahaan keuangan Sinar Mas Group.
 
Hingga akhir hayat, Eka Tjipta masih menghuni daftar papan atas orang terkaya di Indonesia. Riset yang dilakukan Globe Asia 2018 mengungkapkan nilai kekayaannya mencapai Rp198,8 triliun dan  menempatkannya sebagai orang terkaya kedua di Indonesia, di bawah kakak beradik Hartono dari Grup Djarum yang berada peringkat teratas dengan kekayaan sebesar Rp300 triliun.
 
Banyak kenangan sekaligus pelajaran berharga dari mendiang Eka Tjipta. Kelompok usahanya sudah pasti memberikan lahan pekerjaan bagi ribuan masyarakat.
 
Selain itu, dia sudah menunjukkan bahwa berkah alam yang dimiliki seharusnya bisa membawa kemakmuran dan keberhasilan. Terutama, jika orang itu memegang filosofi sebagaimana Eka Tjipta yakini, "Be a man of integrity, be responsible to your family, job, and society." 

Tag : fokus, eka tjipta widjaja
Editor : Annisa Margrit

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top