Jokowi Tekankan Pentingnya Inovasi untuk Hadapi Dinamika Dunia

Presiden Joko Widodo menekankan urgensi inovasi untuk menghadapi perubahan yang sangat cepat di dunia, yang salah satunya disumbangkan oleh lembaga penelitian.
Amanda Kusumawardhani | 01 November 2018 12:30 WIB
Presiden Joko Widodo memberikan penjelasan kepada awak media seusai menghadiri Pameran Konstruksi Indonesia dan Indonesia Infrastructure Week 2018 di JIExpo Kemayoran, Jakarta, Selasa (31/10). - Bisnis/Amanda Kusumawardhani

Bisnis.com, JAKARTA -- Presiden Joko Widodo menekankan urgensi inovasi untuk menghadapi perubahan yang sangat cepat di dunia, yang salah satunya disumbangkan oleh lembaga penelitian.

Dalam sambutannya di Pameran Indonesia Science Expo (ISE) 2018 di Tangerang, Rabu (1/11/2018), Presiden Jokowi mengatakan perkembangan teknologi dan ilmu pengetahuan telah mengubah tatanan formal dunia, baik di bidang ekonomi, sosial, maupun budaya.

"Perubahan begitu cepat, baik di negara kita maupun di dunia. Semua keterbatasan itu tidak relevan. Semua ketidakmungkinan bisa diterobos, yang dulu tidak mungkin sekarang diterobos oleh namanya ilmu pengetahuan, teknologi, inovasi," ucapnya.

Jokowi mencontohkan adanya perusahaan taksi terbesar tapi tidak memiliki mobil yakni Uber. Selain itu, perusahaan ritel dengan omzet besar yakni Alibaba, bahkan tidak memiliki pabrik dan toko ritel.

Tak hanya itu, perkembangan teknologi telah membuat sejumlah pekerjaan yang ada saat ini menjadi hilang. Namun, ada peluang lain yang bisa dimanfaatkan yakni terciptanya pekerjaan-pekerjaan baru yang sesuai dengan permintaan global sekarang.

"Tukang pos yang dulu sangat penting sekarang tidak dikenal lagi. Kasir mungkin sebentar lagi tidak relevan. Masih banyak pekerjaan lain yang mulai hilang dan relevan. Ini yang terus kita amati. Perkembangan teknologi juga mempengaruhi formasi bisnis," tambahnya.

Sementara itu, Menteri Teknologi, Riset, dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti) M. Nasir menjelaskan program pemerintah melalui Nawacita ke-6 memberi tekanan khusus kepada penguatan daya saing.

"Kemenristekdikti menerjemahkan misi itu dalam penyatuan komponen kegiatan riset, teknologi, dan pendidikan tinggi di mana melahirkan riset-riset yang inovatif," tuturnya.

Sesuai kebijakan dan arahan Presiden, Nasir mengungkapkan berbagai riset yang ada harus disederhanakan dan dihilirisasi pada industri.

Per 21 Oktober 2018, jumlah riset yang sudah dilakukan di Indonesia mencapai 22.222 buah. Angka ini tidak jauh dari capaian Malaysia yang sebanyak 24.045 riset, Singapura 17.600 riset, dan Thailand 13.200 riset.

 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
jokowi, kemenristekdikti

Editor : Annisa Margrit

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top