Traveller Indonesia Spontan, Hobi Booking Mendadak

24% dari seluruh pemesan hotel melakukan booking pada waktu-waktu terakhir yakni 1 hari sebelum keberangkatan atau bahkan pada hari keberangkatan itu sendiri.
Dhiany Nadya Utami | 10 Oktober 2018 14:37 WIB
Wisatawan menikmati suasana senja di Pantai Laendra, Desa Kemujan, Karimunjawa, Jepara, Jawa Tengah, Minggu (22/7/2018). Pantai berpasir putih yang dikelola oleh warga lokal keturunan Suku Bugis di kepulauan wisata bahari Karimunjawa berlokasi 22 kilometer ke arah utara dari pusat alun-alun Karimunjawa tersebut menjadi destinasi baru wisatawan untuk menikmati pemandangan matahari tenggelam. - Antara/Aji Styawan

Bisnis.com, JAKARTA — Para pelancong Indonesia ternyata tak membutuhkan waktu lama untuk riset sebelum melakukan perjalanan. Bahkan, perilaku pelancong menunjukkan kecederungan untuk memesan hotel di waktu-waktu terakhir.

Berdasarkan studi yang dilakukan Google dan TNS, sebanyak 96% pemesan hotel mengatakan riset merupakan hal yang penting dilakukan sebelum memutuskan untuk melakukan pemesanan.

Rata-rata pelancong di Indonesia membutuhkan waktu 13 hari untuk riset sebelum memutuskan untuk melakukan pemesanan hotel. Jangka waktu tersebut terbilang cepat jika dibandingkan dengan traveler dari negara lain seperti Jepang (22 hari) dan Selandia Baru (25 hari). 

Menurut Industry Manager - Travel Google Indonesia Zulfi Rahardian, hal yang pertama kali menjadi pertimbangan bagi pelancong Indonesia adalah harga dan lokasi akomodasi. Kemudian, baru mulai mempertimbangkan aspek lainnya seperti promosi, fitur yang ditawarkan hotel, dan kawasan sekitar hotel.

 Terakhir, sebelum benar-benar memesan kamar, maka pertimbangan utama kembali pada harga, promosi, dan ketersediaan. “Price and promo masih jadi aspek utama buat masyarakat Indonesia,” tuturnya di Kantor Google Indonesia, di Jakarta, Selasa (9/10/2018).

 Zulfi juga mengatakan dalam kondisi hari-hari biasa, 24% dari seluruh pemesan hotel melakukan booking pada waktu-waktu terakhir yakni 1 hari sebelum keberangkatan atau bahkan pada hari keberangkatan itu sendiri. Angka tersebut membengkak pada waktu peak season atau musim puncak liburan hingga sekitar 32%.

“Orang-orang semakin spontanious, mereka merencanakan trip-nya pada akhir-akhir. Misalnya mendadak ingin pergi berlibur saat weekend atau tadinya cuma mau pergi sehari, tapi tiba-tiba memutuskan buat extend,” papar Zulfi.

Vice President of Marketing Traveloka Kurnia Rosyada mengatakan bahwa dia melihat adanya tren yang sama di layanan mereka, terutama untuk tujuan dalam negeri yang tidak terlalu jauh dari tempat asal pelancong.

“Kalau [destinasi liburan] yang dekat kan lebih familier jadi lebih spontan, kalau yang jauh misalnya ke Tokyo itu kan butuh perencanaan jadi biasanya lebih terencana,” ujar Kurnia.

 Maka dari itu, kata Kurnia, mereka juga membuat fitur khusus yang memudahkan pengguna untuk melakukan pemesanan instan pada waktu-waktu terakhir. 

Tag : pariwisata, google
Editor : Demis Rizky Gosta

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top