Keamanan Operasional Perusahaan Masih Rawan Serangan Siber

Keamanan operasional perusahaan masih tergolong rawan terhadap serangan siber.
Duwi Setiya Ariyanti | 24 September 2018 01:47 WIB
Ilustrasi pengguna sedang mengetik kode siber. - Reuters/Kacper Pempel

Bisnis.com, JAKARTA--Keamanan operasional perusahaan masih tergolong rawan terhadap serangan siber.

Data International Data Corporation (IDC) menyebutkan bahwa mayoritas perusahaan di Asia Tenggara, termasuk Indonesia masih fokus dalam keamanan operasional dasar. Adapun, hanya 0,2% perusahaan yang telah mencapai tahap optimal sementara 69,4% sisanya masih dalam tahap rendah.

Dalam keterangan resminya, Minggu (23/9/2018), Senior Research Manager for Consulting and Head of Operations IDC Indonesia, Mevira Munindra mengatakan deteksi ancaman lanjutan sebagai cara efektif untuk mendeteksi serangan siber. Cara ini, katanya, telah digunakan sekitar 40% perusahaan global. Sayangnya, cara yang sama belum diadopsi perusahaan-perusahaan di Asia Tenggara.

“Hampir 40% dari perusahaan global menilai teknik deteksi lanjutan (advanced detection technique) sebagai cara paling efektif untuk mendeteksi ancaman keamanan cyber,” ujarnya.

Padahal risiko serangan semakin bertambah. Tercatat, sepanjang 2018 setidaknya terdapat empat asal serangan. Pertama, malware yang digunakan untuk data dari pemrosesan melalui komputer dan komputasi awan seperti pada kegiatan penambangan mata uang kripto.

Kedua, rantai pasok yang kini mulai terhubung secara digital namun tak terproteksi. Ketiga, ransomware yang jumlahnya tercatat naik sebesar 46% untk melancarkan aktivitas kriminal. Terakhir, penggunaan peranti seluler akibat sistem operasi yang tidak diperbarui.

Agus F Abdillah, Chief Product and Synergy Officer Telkomtelstra, mengatakan dengan risiko keamanan siber yang meningkat saat melakukan digitalisasi, terdapat kebutuhan untuk memastikan infrastruktur teknologi informasi cukup tangguh mencegah dan menangani serangan siber. Oleh karena itu, pihaknya mengeluarkan layanan uji infrastruktur seperti pengecekan keamanan, pengujian kelemahan hingga pengujian risiko komputasi awan.

Selain itu, pihaknya pun memanfaatkan Telkom Security Operation Center (TSOC) yang didukung tim ahli kemanan siber yang akan terus memantau dan meningkatkan postur keamanan organisasi.

Menurutnya, pengujian infrastruktur ini akan menjadi langkah preventif sehingga peluang terjadinya serangan bisa diantisipasi.

“Pemilihan teknologi atau solusi keamanan cyber yang salah bisa berdampak besar, baik pemborosan sumber daya dan sistem atau jaringan perusahaan
masih rentan,” ujarnya.

Tag : serangan siber
Editor : Andhika Anggoro Wening

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top