3 Peneliti Indonesia Raih Penghargaan Sains di Prancis

Tiga peneliti muda Indonesia mendapatkan penghargaan Prix Mahar Schutzenberger dari Asosiasi Franco-Indonesia untuk Pengembangan Sains (AFIDES).
Annisa Margrit | 05 Mei 2018 07:31 WIB
Ilustrasi sains dan teknologi - hdimagewallpaper.com

Bisnis.com, JAKARTA -- Tiga peneliti muda Indonesia mendapatkan penghargaan Prix Mahar Schutzenberger dari Asosiasi Franco-Indonesia untuk Pengembangan Sains (AFIDES).

Antara melansir Sabtu (5/5/2018), Atase Pendidikan dan Kebudayaan Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Paris Surya Rosa Putra menyebutkan ketiga peneliti tersebut adalah Arief Wicaksana dari Departemen Teknik Informatika dan Mikroelektronika untuk Arsitektur (TIMA) Universitas Grenoble-Alpen, Rifan Hardian dari program Kimia Universitas Aix-Marseille, dan Vinsensia Ade Sugiawati dari Departemen Kimia Universitas Aix-Marseille.

Mereka berhasil lolos seleksi dari 12 kandidat mahasiswa tahun kedua program doktoral. Kementerian Pendidikan Nasional Prancis mencatat terdapat 118 orang mahasiswa program doktoral asal Indonesia pada 2018.

Arief menampilkan riset terbaru untuk meningkatkan kinerja mikroprosesor Field-Programmable Gate Array (FPGA). Sementara itu, Rifan meneliti upaya pembuatan material baru yang lebih efisien, efektif, dan aman untuk menangkap, memisahkan, serta menyimpan gas sekaligus.

Adapun Vinsensia mengembangkan material komposit untuk keperluan baterai mikro.

Riset ketiga peneliti ini menggambarkan riset unggulan utama Prancis. Di luar kimia dan material komposit, Prancis dikenal kuat di bidang transportasi, ekoteknologi, dan nanoteknologi.

Penghargaan Mahar Schutzenberger lahir dari gagasan Profesor Marcel-Paul Schutzenberger pada 1988, ketika diangkat sebagai anggota Academie des Sciences France. Organisasi ini adalah organisasi elit ilmuwan Prancis yang setara dengan Royal Society of London di Inggris.

Anugerah itu bertujuan untuk mempererat hubungannya dengan Indonesia yang telah dijalin sejak 1951, saat Profesor Schutzenberger mengikuti misi WHO untuk pemberantasan penyakit infeksi kronis tropis.

Nama Mahar Schutzenberger diambil dari nama putranya yang meninggal dunia saat menempuh pendidikan di Ecole Polytechnique Paris pada 1980.

Menariknya, selain memberikan penghargaan berupa uang dan piagam, AFIDES juga menyerahkan medali yang salah satu sisinya menggambarkan wajah Supartinah Pakasi. Dia adalah salah satu tokoh pendidikan Indonesia yang juga kakak ipar Profesor Schutzenberger.

Tag : penghargaan, sains
Editor : Annisa Margrit

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top