Penjualan Semen Indonesia Naik 11,8%

Penjualan Semen Indonesia Grup mencatatkan pertumbuhan sebesar 11,8% secara tahunan pada Oktober 2017.
Annisa Sulistyo Rini | 20 November 2017 18:44 WIB
Pekerja melakukan aktivitas bongkar muat semen di Pelabuhan Sunda Kelapa, Jakarta, Senin (4/9). - JIBI/Felix Jody Kinarwan

Bisnis.com, JAKARTA—Penjualan Semen Indonesia Grup mencatatkan pertumbuhan sebesar 11,8% secara tahunan pada Oktober 2017.

Berdasarkan data penjualan semen yang dirilis perseroan, penjualan domestik dan ekspor pada bulan kesepuluh tahun ini sebesar 2,91 juta ton, naik dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar 2,61 juta ton.

Jika dibandingkan dengan pertumbuhan penjualan pada September 2017, penjualan tersebut lebih tinggi. Pasalnya, pada akhir kuartal III tersebut, penjualan semen perseroan untuk pasar domestik dan ekspor tumbuh 6,3% y-o-y.

Apabila dirinci, penjualan domestik Semen Indonesia Grup, yang terdiri dari Semen Gresik, Semen Padang, dan Semen Tonasa tercatat sebesar 2,77 juta ton, meningkat 8,8% y-o-y. Semen Gresik mencatatkan pertumbuhan paling tinggi, yaitu 13% y-o-y, sedangkan pertumbuhan penjualan Semen Tonasa menurun 1,5% y-o-y.

Sementara itu, untuk pasar ekspor, secara keseluruhan pertumbuhan penjualan Semen Indonesia Grup sebesar 131,2% y-o-y. Semen Gresik tidak mencatatkan penjualan, sedangkan Semen Padang mencatatkan pertumbuhan penjualan semen ekspor sebesar 15,1% y-o-y dan Semen Tonasa sebesar 603,6% y-o-y.

Secara kumulatif, selama Januari—Oktober 2017 penjualan semen Semen Indonesia Grup tumbuh 9,3% dari 21,67 juta ton menjadi 23,69 juta ton. Pertumbuhan ini naik tipis dibandingkan pertumbuhan penjualan sepanjang Januari-September 2017 yang sebesar 9,0% y-o-y.

Agung Wiharto, Corporate Secretary Semen Indonesia, mengatakan angka pertumbuhan penjualan yang lebih tinggi tersebut didorong oleh pembangunan infrastruktur, baik pemerintah maupun swasta.

“Penjualan semen curah kami tumbuh lebih besar dibandingkan semen sak atau ritel, lebih banyak permintaan ke proyek,” ujarnya kepada Bisnis.com, Senin (20/11/2017).

Walaupun pertumbuhan penjualan semen curah lebih tinggi dibandingkan dengan semen sak, Agung menyebutkan porsi penjualan semen curah masih lebih rendah, yakni sebesar 40%, sedangkan semen sak berkontribusi sebesar 60% terhadap total penjualan.

Selain itu, permintaan yang lebih tinggi menjelang akhir tahun merupakan pola musiman, terlepas Hari Raya Lebaran jatuh di bulan apa. Hal ini dipengaruhi oleh anggaran pemerintah yang biasanya baru disetujui pada April, sehingga proyek-proyek baru dimulai pada kuartal akhir.

“Musim hujan juga pengaruh ya. Di Indonesia kan Agustus hingga November masih musim kering dan mulai hujan di Desember. Musim kering ini juga baik untuk masa kontruksi, apalagi pada Desember dan Januari ada libur Natal dan Tahun Baru, proyek biasanya kan ada masa libur juga,” jelasnya.

Untuk pasar ekspor, permintaan pada Oktober 2017 mengalami kenaikan sebesar 131,2% y-o-y dari 62.829 ton menjadi 145.271 ton. Agung mengatakan kendati pertumbuhan penjualan ekspor meningkat tajam, perseroan masih memprioritaskan kebutuhan dalam negeri.

“Pasar ekspor ini kan pasar sekunder, volume penjualannya hanya sekitar 5% dari total,” ujarnya.

 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
semen indonesia

Editor : Ratna Ariyanti

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top