Alat Temuan Mahasiswa Brawijaya Ubah Kotoran & Bakteri Jadi Listrik

Mahasiswa Universitas Brawijaya berhasil menciptakan alat pengubah kotoran menjadi energi listrik.
Choirul Anam | 26 September 2018 18:56 WIB
Mahasiswa saat menerima penghargaan atas prestasi dalam menciptakan alat pengubah kotoran menjadi energi listrik. - Istimewa

Bisnis.com, MALANG — Mahasiswa Universitas Brawijaya berhasil menciptakan alat pengubah kotoran menjadi energi listrik.

Mahasiswa mengembangkan mengembangkan alat Microbial Fuel Cell yang berfungsiuntuk mengubah kotoran menjadi listrik. Penelitian ini dikembangkan dalam judul Digital Fuel Cell from Human Waste (DELETE ): An Alternative Way to Solve Electrical Energy Crisis by Using IOT/Internet of Things to Implement The SDGs 2030.

Pada kompetisi 10th International Exhibition of Inventions and 3rd World Innovation and International Invention Forum 2018 yang diselenggarakan di Foshan, Guangzhou, China, selama tiga hari (13/9-15/9/2018), penelitian ini memperoleh tiga penghargaan sekaligus, yaitu Silver Medal serta International Invention Award dariMalaysian Association of Research Scientists (MARS) dan Young Innovator Award dari Citizen Innovation Singapore. Kompetisi diikuti oleh 253 tim dari 49 negara.

Naila El’ Arisie, Ketua Tim Penelitian, mengatakan penelitian yang dilakukan oleh tim memakan waktu tiga bulan. Terinspirasi dari penelitian yang sudah dilakukan luar negeri, tim berinisiatif untuk mengaplikasikan dan membuktikan secara langsung.

“Kami melihat di Indonesia belum pernah ada yang mengaplikasikan, jadi kami ingin membuktikan, betul bisa atau tidak, lalu dicoba juga diintegrasikan dengan aplikasi perangkat lunak,” kata mahasiswa dari Jurusan Teknik Industri itu di Malang, Rabu (26/9/2018).

Selain Naila, penelitian melibatkan Muhammad Khuzain (Fakultas Teknik), I Wayan Angga Jayadiyuda (Fakultas Teknik), Muhammad Syarifuddin (Fakultas Ilmu Komputer), Firdausi (Fakultas Pertanian), Rina Ervina (Fakultas Ekonomi & Bisnis), Tubagus Syailendra W (Fakultas Ilmu Sosial & Politik), Hendra Surawijaya (Fakultas Kedokteran Hewan), dan dosen pembimbing Eka Maulana.

Naila menjelaskan, alat ini berbentuk semacam chamber dari akrilik yang memakai bantuan PEM (Proton Exchange Membrane). Kotoran berfungsi sebagai substrat untuk membangkitkan listrik karena kandungan bakteri elektroaktifnya.

“Untuk prototype, kami menggunakan kotoran sapi terlebih dahulu. Sedangkan aplikasi perangkat lunak yang dibuat berfungsi untuk mengontrol suhu, kelembapan, tegangan, serta arus yang dihasilkan,” ucapnya.

Dari pengukuran alat didapatkan setiap chamber-nya bisa menghasilkan 1 volt. Karena e chamber, alat tersebut dapat menghasilkan 3 volt dan bisa dinaikkan menjadi 22 volt menggunakan boost converter.

“Jadi jika ingin diaplikasikan untuk peralatan rumah tangga, tinggal diperbanyak jumlah chamber-nya. Ke depannya diharapkan bisa digunakan pada daerah-daerah terpencil yang belum teraliri listrik,” katanya.

Tag : universitas brawijaya, inovasi teknologi
Editor : Miftahul Ulum

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top