Tak Tertolong Data, Kinerja Telkomsel Jatuh Terseret Legacy

Pendapatan dari bisnis legacy pada paruh pertama 2018 turun 23% bila dibandingkan dengan capaian pada periode yang sama tahun 2017 yaitu Rp27,9 triliun menjadi Rp21,5 triliun.
Duwi Setiya Ariyanti | 31 Juli 2018 17:37 WIB
Warga kota Solo antusias menyambut rombongan pawai obor Asian Games 2018 yang berkesempatan disambut di GraPARI Solo, (19/7). Sebagai Official Mobile Partner Asian Games 2018, Telkomsel turut berpartisipasi dalam menyukseskan kegiatan pawai obor yang diselenggarakan di sejumlah kota di Indonesia. - Telkomsel

Bisnis.com, JAKARTA — Pendapatan per pelanggan (ARPU) PT Telekomunikasi Selular (Telkomsel) pada semester I/2018 turun 19,1% bila dibandingkan dengan ARPU pada periode yang sama tahun 2017 dari Rp44.000 menjadi Rp36.000. 

Dikutip dari info memo yang dirilis PT Telekomunikasi Indonesia (Persero), Tbk, Selasa (31/7/2018), ARPU Telkomsel masih menunjukkan pertumbuhan sebesar 4,7% bila dibandingkan dengan kuartal I/2018 yakni Rp35.000. 

Dengan rezim registrasi kartu prabayar diperkirakan bahwa ARPU operator seluler akan naik seiring dengan berubahnya perilaku konsumen. Pasalnya, kebijakan registrasi kartu prabayar mendorong konsumen menggunakan nomor yang sama  dan melakukan ulang daripada berganti kartu. Artinya, operator yang selama ini memberikan lebih banyak promosi pada kartu perdana, berpeluang mendapatkan pendapatan lebih dari isi ulang pulsa. 

Dampak registrasi juga terlihat pada jumlah nomor prabayar di jaringan Telkomsel. Telkomsel memiliki 178 juta nomor di jaringan atau turun 0,1% bila dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu yakni 177,8 juta nomor prabayar. Jumlah ini turun 7,7% bila dibandingkan dengan kuartal I/2018 yakni 192,7 juta nomor menjadi 178 juta nomor. 

Pertumbuhan justru dicapai dari segi jumlah nomor pascabayar di jaringan. Jumlah nomor pascabayar di semester I/2018 naik 24,2% bila dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu yakni dari 4,3 juta nomor menjadi 5,3 juta nomor. 

Di sisi lain, bisnis legacy yang berasal dari SMS dan panggilan suara terus menurun. Pendapatan dari bisnis legacy pada paruh pertama 2018 turun 23% bila dibandingkan dengan capaian pada periode yang sama tahun 2017 yaitu Rp27,9 triliun menjadi Rp21,5 triliun. Sementara itu, bila dibandingkan dengan kuartal I/2018, pendapatan dari bisnis legacy turun 10,8% dari Rp11,3 triliun menjadi Rp10,1 triliun. 

Perinciannya, pendapatan dari telepon suara sebesar Rp17,1 triliun dengan 139 miliar menit dan SMS Rp3,6 triliun dari 43,5 miliar pesan. Dari trafik panggilan suara dan SMS pun kompak menurun bila dibandingkan periode yang sama tahun lalu yakni turun 0,9% untuk trafik panggilan suara dan turun 41,5% untuk trafik SMS. 

Sektor bisnis digital menjadi mesin penggerak pendapatan perusahaan dengan pertumbuhan 17,5% bila dibandingkan semester I/2017 yakni Rp18,1 triliun menjadi Rp21,2 triliun. Adapun, faktor penyumbang terbesar bisnis digital yakni pendapatan dari data dengan pertumbuhan 13% bila dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu menjadi Rp18,4 triliun.

Angka ini terealisasi karena naiknya adopsi ponsel pintar sebesar 24,6% menjadi 112,1 juta pengguna. Selain itu, perpindahan penggunaan data dari pay as you use (PAYU) ke paket Flash juga pertumbuhan trafik data 134,8% menjadi pendorong naiknya pendapatan data. Sisanya, Rp2,8 triliun didapatkan dari layanan digital yakni melalui program gaya hidup digital, layanan keuangan seluler, periklanan digital, perbankan digital dan internet of things (IoT). 

Dengan demikian, perusahaan mampu membukukan pendapatan sebesar Rp45,9 triliun atau naik 11,9% dibandingkan dengan capaian periode yang sama tahun 2017 yaitu Rp41,1 triliun.

Lalu, dari sisi realisasi base transceiver station (BTS) terpasang, terdapat 146.571 BTS terpasang dari Januari hingga Juni 2018. Dari jumlah itu, 96.245 BTS di antaranya merupakan BTS 3G/4G. 

Tag : seluler
Editor : Demis Rizky Gosta

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top