Selamat Pak Jokowi, Tingkat Inovasi Indonesia Naik 2 Peringkat

Kabar baik bagi Indonesia setelah Global Innovation Index (GII) 2018 dirilis. Indonesia menempati posisi ke-85 atau naik dua peringkat dari capaian tahun lalu.
David Eka Issetiabudi | 13 Juli 2018 20:14 WIB
Presiden Joko Widodo (kedua kanan) didampingi Menko Perekonomian Darmin Nasution (kedua kiri), dan Ketua Dewan Koperasi Indonesia Nurdin Halid (kanan) meninjau stan pameran usai acara peringatan Hari Koperasi Nasional (Harkopnas) Ke- 71 di Tangerang, Banten, Kamis (12/7/2018). - ANTARA/Muhammad Iqbal

Bisnis.com, JAKARTA — Kabar baik bagi Indonesia setelah Global Innovation Index (GII) 2018 dirilis. Indonesia menempati posisi ke-85 atau naik dua peringkat dari capaian tahun lalu.

Dalam laporan GII 2018 yang dirilis tiap tahunnya oleh Cornell University, INSEAD and the World Intellectual Property Organization (WIPO) ini, menunjukkan Indonesia memperoleh nilai tinggi dalam enam dari tujuh kategori yang ditetapkan dalam GII.

Penilaian tinggi tersebut, datang dari indikator institusi (97), pembangunan manusia dan penelitian (94), infrasturktur (82), kemajuan pasar (59), kemajuan bisnis (89), serta kreativitas output inovasi (71). Skor yang didapat Indonesia, masih di atas rata-rata negara dengan penghasilan menengah ke bawah.

Dalam catatan GII 2018, Indonesia tampil lebih baik dalam output inovasi daripada input inovasi. Tahun ini, peringkat Indonesia dalam input inovasi meningkat mencapai posisi ke-90, naik dari posisi ke-99 pada 2017 dan 2016.

Untuk output inovasi, Indonesia menempati peringkat ke-73 atau posisi yang sama dengan tahun lalu.

Sebagai gambaran, input inovasi merupakan berbagai sumber daya yang diperuntukkan dalam proses menciptakan inovasi, sementara output inovasi merupakan hasil yang diperoleh dari inovasi itu sendiri.

Naiknya Indonesia posisi dalam GII 2018, juga menjadikannya menempati posisi ke-13 dari 30 negara berpenghasilan menengah bawah dalam laporan yang diterbitkan oleh WIPO ini. Sementara itu, untuk kawasan Asia Tenggara, Asia Timur dan Oceania, Indonesia menempati posisi ke-14 dari total 15 negara.

Sayangnya, posisi Indonesia masih di bawah, Malaysia, Thailand, Vietnam, Brunei Darusalam, serta Filipina. Untuk top 10 besar negara paling inovatif, GII 2018 menempatkan Swiss di urutan pertama, disusul oleh Belanda, Swedia, Inggris, Singapura, Amerika Serikat, Finlandia, Denmark, Jerman serta Irlandia.

 

Berikut disajikan indikator kekuatan dan kelemahan Indonesia dalam GII 2018

Kekuatan:

- Dari sisi input inovasi, kekuatan Indonesia terlihat dari empat area dari total lima area GII 2018. Mulai dari kemajuan pasar (urutan ke-89), kemajuan bisnis (59), Infrasturktur (82), Institusi (97).

- Dari sisi output inovasi, kekuatan Indonesia terdapat dalam dua dari tiga indikator yang ada. Kreativitas output inovasi (87) dan output pengetahuan dan teknologi (86).

Kelemahan:

-Kelemahan Indonesia relatif terkumpul dalam input inovasi, yang tersebar dalam tiga wilayah. Pertama soal kelembagaan. Indonesia memiliki kinerja yang lemah dalam lingkup peraturan daerah (125)

-Terkait pengembangan manusia dan penelitian, ditemukan kelemahan dalam indikator pendanaan dari pemerintah untuk pelajar (86).  Selain itu pengetahuan pekerja, seperti penawaran pelatihan formal, dianggap lemah.

- Dari sisi output inovasi, terlihat sebagian besar kelemahan Indonesia ada di area ini. Sebut saja seperti output pengetahuan dan teknologi, yang ditunjukkan dalam penciptaan pengetahuan, indikator artikel ilmiah dan teknis dan paten menurut asal.

RANKING INDONESIA DALAM GLOBAL INNOVATION INDEX

                GII          Input     Output Efficiency

2018       85           90           73           66

2017       87           99           73           42

2016       88           99           76           52

Sumber: Laporan GII 2018 (Indonesia)

Tag : inovasi
Editor : Martin Sihombing

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top