Mengubah Kulit Lengan Menjadi Touchscreen

Gerakan jemari pengguna di lengan kemudian bisa dideteksi menggunakan sensor kedalaman (depth-sensing array).
Gombang Nan Cengka | 04 Juli 2018 13:46 WIB
Prototipe penggunaan lengan sebagai layar sentuh menggunakan jam pintar - robertxiao.ca

Bisnis.com, JAKARTAPada saat ini, peranti sandangan (wearable) tersebut dilengkapi dengan kemampuan komputasi yang setara dengan ponsel pintar beberapa tahun lalu, tetapi ada satu hal yang tidak dimilikinya yaitu layar sentuh dengan ukuran memadai.

Layar arloji pintar yang relatif kecil itu mungkin tidak masalah bila interaksi Anda dengan peranti ini hanyalah melihat waktu atau informasi lainnya. Namun, untuk keperluan lain, Anda mungkin akan mengalami kesulitan.

Tidak mengherankan bila para pembuat arloji pintar lebih banyak memanfaatkan interaksi dengan suara untuk mengatasi masalah tersebut. Ini dimungkinkan dengan semakin baiknya teknologi pengenalan suara dan pengolahan bahasa alamiah. Namun, pada beberapa kasus, Anda mungkin enggan bercakap-cakap dengan arloji dan ingin melakukan interaksi yang lebih senyap.

Lumiwatch, arloji pintar yang dikembangkan oleh Universitas Carnegie-Mellon, Amerika Serikat, berusaha mengatasi masalah keterbatasan luas layar sentuh ini. Para peneliti yang bekerja sama dengan perusahaan China ASU Tech tersebut memecahkan masalah dengan menanamkan proyektor mini ke dalam arloji.

Proyektor tersebut kemudian memproyeksikan gambar ke lengan pemakainya, dan gambar tersebut kemudian bisa berfungsi seperti layar sentuh.

Gerakan jemari pengguna di lengan kemudian bisa dideteksi menggunakan sensor kedalaman (depth-sensing array).

Untuk menciptakan purwarupa arloji ini, para peneliti menggunakan cip Qualcomm APQ8026, yang memiliki prosesor 1,2 GHz dan prosesor grafis 450 MHz.

Purwarupa ini memiliki RAM 768 MHz dan kapasitas penyimpanan data 4 GB. Prototipe Lumiwatch menjalankan sistem operasi yang didasarkan pada Android 5.1, dengan aplikasi khusus untuk arloji pintar.

Untuk menguji kelayakan pemakaian Lumiwatch di dunia nyata, para peneliti mencobanya dengan lima orang responden. Tim peneliti mendapatkan akurasi 99,3% untuk sentuhan di layar yang diproyeksikan.

Tim peneliti juga menguji kinerja gambar yang diproyeksikan di lengan, yang antara lain dipengaruhi oleh warna kulit dan pencahayaan di sekitar. Pada umumnya, hasilnya cukup memuaskan kecuali saat kulit lengan terkena langsung cahaya matahari di luar ruangan.

Dalam laporan yang dimuat di Proceedings of the 2018 CHI Conference on Human Factors in Computing Systems, para peneliti mencatat beberapa masalah yang muncul di purwarupa arloji ini.

Salah satunya adalah panas: suhu arloji bisa mencapai 65 derajat Celcius bila proyektor ini digunakan terus selama beberapa menit. Untuk mengatasi masalah ini Lumiwatch perlu didesain ulang agar panas bisa tersebar dengan lebih baik. 

 Tampilan gambar juga memiliki bentuk yang tidak teratur dan tidak bisa diramalkan, meskipun ukurannya bisa lebih besar. Ini merupakan tantangan buat pembuat aplikasi.

Tag : inovasi
Editor : Demis Rizky Gosta

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top