Ini 5 Sektor Potensial yang Mengadopsi Teknologi Kecerdasan Buatan

Perkembangan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) tidak hanya memunculkan perkembangan teknologi di berbagai sektor, tapi juga memicu perdebatan atas dampak penggunaannya baik di kalangan pebisnis maupun pembuat kebijakan dan akademisi.
N. Nuriman Jayabuana | 25 Juni 2018 14:30 WIB
Dari Kiri ke Kanan, Yos Vincenzo, Cloud Enterprise Business Group Lead Microsoft Indonesia, Linda Dwiyanti, Chief Marketing and Operations Microsoft Indonesia; dan Lucky Gani, Business Group Head Microsoft Office Division Microsoft Indonesia berfoto setelah peluncuran dan pemaparan tiga solusi inovatif terbaru dari Microsoft, Microsoft 365, Azure Stack, dan Microsoft SQL Server 2017.

Bisnis.com, JAKARTA – Perkembangan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) tidak hanya memunculkan perkembangan teknologi di berbagai sektor, tapi juga memicu perdebatan atas dampak penggunaannya baik di kalangan pebisnis maupun pembuat kebijakan dan akademisi.

Pengaruh AI pun muncul di Indonesia, yang sudah memasuki era Industri 4.0, yang ditandai dengan meningkatnya konektivitas, interaksi antara masyarakat, mesin, dan sumber daya lainnya yang semakin konvergen sebagai hasil dari kemajuan teknologi informasi dan komunikasi.

AI juga merupakan salah satu dari lima teknologi utama yang mendukung agenda nasional “Making Indonesia 4.0” untuk menghadapi era Industri 4.0.

President Director Microsoft Indonesia Haris Izmee menyatakan kecerdasan buatan tidak dapat dipungkiri bakal menghadirkan serangkaian tantangan sosial baru yang perlu dihadapi secara serius dan hati-hati.

"Khususnya untuk tidak melupakan norma dan etika untuk membangun kepercayaan para pelanggan dan stakeholder teknologi kecerdasan buatan,” ujarnya dalam keterangan resmi, Senin (25/6/2018).

Beragam kalangan memandang skeptis pengembangan teknologi AI dengan penuh kewaspadaan. Hanya saja, potensi pengembangan teknologi AI dapat menciptakan dampak yang luar biasa terhadap berbagai bidang.

Microsoft menilai terdapat lima bidang kunci yang dapat menuai dampak positif dari adopsi teknologi AI, yaitu:

1. Aksesibilitas
Asia Pasifik saat ini merupakan rumah bagi 690 juta orang dengan disabilitas. AI dapat membantu orang-orang dengan keterbatasan penglihatan, pendengaran, kognitif, dan mobilitas untuk melakukan pekerjaan harian secara independen, yang akan memberikan kehidupan yang lebih kaya dan produktif serta dapat lebih berpartisipasi dalam masyarakat

Sebagai contoh, Seeing AI merupakan aplikasi gratis yang memanfaatkan kemampuan AI untuk mengidentifikasi sederetan isyarat visual termasuk wajah, emosi, dan tulisan tangan. Data tersebut kemudian dikonversi menjadi deksripsi audio bagi orang dengan keterbatasan pengelihatan.

Hal ini memungkinkan 285 juta orang di dunia dengan pengelihatan yang rendah untuk lebih mudah menjalani kehidupan sehari-hari mereka, membuat dunia visual lebih dapat diakses.

Chatbot Rinna buatan Microsoft./Microsoft

Di Indonesia, Microsoft telah mengembangkan Rinna, sebuah chatbot berbasis AI yang diposisikan sebagai teman baik pengguna LINE, sebagaimana fungsinya sebagai chatbot sosial dan dibangun menggunakan berbagai konten sosial dari internet.

Dalam waktu dekat, Rinna akan dikembangkan untuk membantu pengusaha-pengusaha lokal di Indonesia meningkatkan produktivitas dan interaksi mereka dengan para penggunanya, menyediakan sebuah layanan yang lebih pintar dan pengalaman yang lebih baik.

2. Pertanian
Hari ini, Asia merupakan area dengan populasi terbesar di dunia dengan lebih dari 4,5 juta penduduk, hampir 60% dari populasi global. Angka ini diperkirakan akan bertumbuh sebanyak lebih dari 5 juta pada 2030.

Hal ini memberikan sebuah tekanan pada tantangan rantai pasokan pangan di daerah tersebut, kecuali para petani dapat menemukan cara-cara baru untuk memenuhi permintaan, seperti memanfaatkan AI dan teknologi analitis untuk meningkatkan hasil tani mereka secara besar.

Ilustrasi pertanian India./Reuters

Di India, Microsoft telah bekerja sama dengan organisasi nirlaba International Crop Research Institute for Semi-Arid Tropics (ICRISAT) untuk mengembangkan sebuah aplikasi AI untuk menabur benih. Aplikasi itu dapat mengirimkan arahan pada para petani mengenai tanggal yang tepat untuk menabur benih berdasarkan kondisi cuaca, tanah, dan ukuran lainnya.

Solusi tersebut memperkirakan periode optimal untuk masa menabur yang akan menganalisa data rekam jejak cuaca selama 30 tahun ke belakang dan menghitung kadar hujan dan kelembaban tanah menggunakan data dan model ramalan cuaca yang dengan waktu yang nyata. Selain itu, program tersebut membebaskan setiap petani dari biaya modal, seperti pemasangan sensor di lahan.

3. Perubahan Iklim
Salah satu tantangan terbesar pada abad ke-21 adalah perubahan iklim dan bagaimana hal tersebut mengancam kesehatan manusia, infrastruktur, dan sistem alam. Hal terbesar yang menyebabkan perubahan iklim adalah emisi karbon.

Microsoft berupaya berkontribusi dengan mempertimbangkan keberlanjutan dan mengurangi dampak lingkungan yang disebabkan bisnis perusahaan. Salah satu caranya adalah dengan memanfaatkan AI untuk mengatur operasi dan infrastruktur pusat-pusat data.

Hasilnya, lebih sedikit aliran listrik yang dibutuhkan untuk menjalankan komputasi dan pendinginan pusat data milik perusahaan. Layanan awan Mircrosoft diklaim 93% lebih hemat energi dan hampir 98% lebih sedikit karbon dari pusat data perusahaan tradisional.

4. Pendidikan
Pendidikan merupakan salah satu hal yang mendasar untuk menciptakan masa depan yang lebih cerah dan Microsoft menggunakan AI untuk meningkatkan pengalaman pendidikan bagi setiap pelajar dan meningkatkan hasil dalam sekolah.

Ilustrasi sekolah India./Reuters

Hal ini memungkinkan tenaga pengelola dan pendidik untuk secara dini menangani dan mengarahkan setiap pelajar yang memiliki risiko terbesar dengan berbagai program dan konseling supaya tidak dikeluarkan dari sekolah. Aplikasi ini telah digunakan dan menunjukkan hasil yang baik di lebih dari 10.000 sekolah di Andhra Pradesh, India atau mencakup lebih dari lima juta pelajar di negara itu pada 2017.

5. Kesehatan
Terakhir, AI memiliki potensi untuk membantu penyedia layanan kesehatan untuk mengatasi beberapa penyakit yang paling banyak ditemui hari ini, serta meningkatkan kualitas kehidupan bagi masyarakat Asia yang terus bertumbuh.

Di India, Microsoft berkolaborasi dengan salah satu organisasi kesehatan terbesar di negara tersebut, Apollo Hospitals, untuk mengembangkan jaringan yang bertumpu pada AI yang berupaya untuk mengatasi penyakit jantung, yang merupakan penyebab sepertiga kematian di seluruh dunia.

Di India saja, hampir 3 juta kasus serangan jantung terjadi setiap tahunnya dan diperkirakan 30 juta masyarakat India menderita penyakit jantung koroner.

Kemitraan ini bertujuan untuk mengembangkan model-model pembelajaran mesin terbaru untuk memprediksi risiko penyakit jantung pada pasien dan membantu dokter membuat perencanaan pengobatannya.

“Hal-hal tersebut adalah beberapa manfaat yang diberikan AI bagi kehidupan kita, meskipun kita masih pada tahapan awal pengembangannya. Cerita tentang AI kini masih berlanjut dan saya yakin bahwa bab-bab yang kita baca akan didukung dengan anekdot yang positif dan berdampak. Lagipula dengan AI, kami tidak hanya memperkuat kecerdasan manusia, tetapi juga kualitas yang menjadikan kita sebagai manusia seutuhnya: Kepedulian kita. Keingintahuan kita. Keinginan kita bersama untuk menciptakan hari esok yang lebih baik,” tutup Haris.

Tag : microsoft, kecerdasan buatan (AI)
Editor : Annisa Margrit

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top