Pilih Lokasi Penyimpanan Data yang Pas, Public atau Private Cloud?

Data yang ditaruh di public cloud adalah data yang arusnya sering turun naik dan sulit diprediksi.
Dhiany Nadya Utami | 21 Maret 2018 10:00 WIB
Dell EMC - Reuters/msl

Bisnis.com, JAKARTA — Kendati bisnis komputasi awan sedang tren saat ini, permintaan penyimpanan data on premise masih tinggi. Dell EMC menyatakan perusahaan harus semakin pandai memanfaatkan private cloud dan public cloud untuk jenis data yang berbeda. 

Senior Vice President & General Manager, Channels, Asia Pacific & Japan, Dell EMC Tian Beng Eng menyebut perkembangan bisnis digital yang amat pesat di Indonesia sebagai peluang besar untuk bisnisnya.

“Saya tahu e-commerce di Indonesia sedang berkembang sangat pesat. Ini berarti kesempatan besar karena mereka butuh penyimpanan data, kan?” ujarnya Selasa (20/3/2018).

Menurut Eng, transformasi digital yang sedang melanda Indonesia membuat perusahan-perusahaan makin memerhatikan infrastuktur digital. Apalagi dengan makin banyaknya perusahaan internet, pasar makin terbuka lebar.

E-commerce growth akan jadi kesempatan bagus untuk bisnis storage kami,” kata Eng.

Dia juga menilai meski saat ini tren penggunaan komputasi awan mulai masif, perusahaan tidak akan meninggalkan penyimpanan data on premise. Sistem komputasi hybrid atau memadukan public cloud dan private cloud menjadi menjadi pilihan yang paling memungkinkan.

“Solusi yang kami tawarkan bisa memenuhi keduanya. Jadi ya, kami tetap optimis dengan hybrid cloud,” tambahnya.

Eng mengaku amat tertarik melihat perkembangan bisnis infrastruktur teknologi saat ini. Menurutnya perusahaan sekarang telah pandai memilih solusi dan menentukan mana yang sesuai dengan kebutuhan mereka.

Lebih jauh dia menjelaskan, data yang disimpan di private cloud biasanya merupakan data yang dapat diprediksi seperti data identitas karyawan, finansial, maupun sistem kerja harian. Sementara untuk data yang ditaruh di public cloud adalah data yang arusnya sering turun naik dan sulit diprediksi.

“Data non-predictable itu misalnya saat ada lonjakan pengguna e-commerce pada masa promosi. Itu kan tidak setiap hari jadi supaya tidak boros ditaruhnya di [public] cloud,” jelasnya.

Tag : cloud computing
Editor : Demis Rizky Gosta

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top