Pindah Frekuensi di Babel dan Kalteng, Indosat Jamin Pelanggan Tidak Terganggu

Persiapan untuk melakukan refarming frekuensi 2.100 MHz sudah matang untuk selanjutnya dieksekusi mulai nanti malam pukul 23.0003.00 waktu setempat.
Sholahuddin Al Ayyubi | 21 November 2017 08:55 WIB
Teknisi melakukan pemeliharaan rutin jaringan di salah satu Base Tranceiver Station (BTS) di Cirebon, Jawa Barat. - JIBI/Dedi Gunawan

Bisnis.com, JAKARTA — PT Indosat Tbk. menjamin proses penataan ulang jaringan di spektrum frekuensi 2.100 MHz‎ tidak akan mengganggu akses telekomunikasi para pelanggan karena eksekusi akan dilakukan mulai tengah malam hingga dini hari.

Kepala Tim Ad Hoc Refarming PT Indosat Tbk., Yusuf Setiawan men‎gatakan Indosat Ooredoo merupakan operator pertama yang akan memulai proses refarming di wilayah Bangka Belitung dan Kalimantan Tengah. 

Menurut Yusuf, persiapan untuk melakukan refarming frekuensi 2.100 MHz sudah matang untuk selanjutnya dieksekusi mulai nanti malam pukul 23.00–03.00 waktu setempat.

"Persiapan tim kami sudah matang untuk selanjutnya dieksekusi nanti malam. Rencananya‎ eksekusi akan dimulai pukul 23.00—03.00 nanti," tuturnya kepada Bisnis, Selasa (21/11).

Menurut ‎ Division Head Network Architecture Indosat Ooredoo tersebut, jika terjadi gangguan telekomunikasi kepada pelanggan selama proses refarming terjadi, tidak akan berlangsung lama. Pasalnya, eksekusi refarming dilakukan pada tengah malam hingga dini hari.

"Dan jika ada issue di fallback dan itu akan normal kembali pada jam 05.00 waktu setempat. Jadi hanya akan minimum impact ke pelanggan karena eksekusi dilakukan pada jam tersebut," katanya.

Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia menetapkan opsi penataan 2.100 MHz dengan mengharuskan Indosat memindahkan dua blok sepektrum ke posisi paling kanan alokasi frekuensi. 

Opsi penataan ini berarti Indosat harus pindah dari posisi semula, sedangkan tiga operator lain — PT Telekomunikasi Selular, PT XL Axiata Tbk, dan PT Hutchison 3 Indonesia — hanya bergeser satu blok.

Refarming atau penataan ulang harus dilakukan karena kepemilikan blok spektrum pita 2.100 MHz tak berurutan setelah Indosat dan Hutchison 3 Indonesia memenangkan tender. Dengan posisi berdampingan, maka blok spektrum seluruh operator kelak sama-sama selebar 15 MHz sehingga lebih efisien untuk menggelar layanan broadband.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
penataan frekuensi

Editor : Demis Rizky Gosta

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top