Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Sepanjang 2021, Bea Cukai Gulirkan Insentif Impor Vaksin dan Alkes hingga Rp10,12 Triliun

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mencatat total nilai fasilitas kepabeanan dalam penanganan pandemi Covid-19 yang telah disalurkan yaitu Rp10,12 triliun.
Dany Saputra
Dany Saputra - Bisnis.com 04 Januari 2022  |  15:25 WIB
Kodam Jaya kawal kedatangan vaksin Covid-19 merek Sinopharm dari China di Bandara Soekarno-Hatta menuju Gudang Kimia Farma Pulogadung, Jakarta, Sabtu (1/5/2021). - Antara\r\n
Kodam Jaya kawal kedatangan vaksin Covid-19 merek Sinopharm dari China di Bandara Soekarno-Hatta menuju Gudang Kimia Farma Pulogadung, Jakarta, Sabtu (1/5/2021). - Antara\\r\\n

Bisnis.com, JAKARTA - Sepanjang 2021, kinerja kepabeanan dan cukai tumbuh cukup signifikan hingga 26,3 persen secara tahunan (year-on-year/yoy). Kinerja baik tersebut juga diikuti dengan penyaluran insentif fiskal untuk impor alat kesehatan dan vaksin Covid-19.

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mencatat total nilai fasilitas kepabeanan dalam penanganan pandemi Covid-19 yang telah disalurkan yaitu Rp10,12 triliun.

Total insentif yang disalurkan digunakan untuk pembebasan bea masuk impor alat kesehatan sebesar Rp1,79 triliun; bea masuk vaksin Covid-19 senilai Rp8,33 triliun; dan insentif produktif bagi dunia usaha.

"Bea cukai itu pekerjaannya cukup rumit. Selain mengumpulkan pendapatan, memberi insentif, memfasilitasi, juga melakukan enforcement atau menjaga dan melindungi rakyat," jelas Sri Mulyani pada konferensi pers Realisasi APBN 2021 di gedung Kementerian Keuangan, Jakarta, Senin (3/1/2022).

Alokasi insentif fiskal kepabeanan terbesar ditujukan untuk keperluan impor vaksin Covid-19 selama periode 1 Januari-31 Desember 2021. Insentif senilai Rp8,33 triliun ditujukan untuk pembebasan bea masuk impor 465,07 juta dosis vaksin Covid-19, dengan nilai impor mencapai Rp44,08 triliun.

Adapun, Alokasi terbesar kedua sebesar Rp1,79 triliun, yaitu untuk pembebasan bea masuk impor alat kesehatan senilai Rp9,17 triliun. Insentif tersebut ditujukan untuk memfasilitasi impor tiga alat kesehatan yang paling dibutuhkan seperti PCR test kit, obat antivirus, dan ventilator.

Selanjutnya, insentif fiskal kepabeanan senilai Rp7,68 miliar digunakan untuk insentif produktif tambahan kawasan berikat (KB), dan fasilitas kemudahan impor tujuan ekspor (KITE).

Adapun, realisasi penerimaan kepabeanan dan cukai 2021 tercatat tercatat 125,1 persen melampaui target APBN, atau senilai Rp269,0 triliun. Hal ini didorong oleh aktivitas ekspor dan impor 2021 yang pulih, seperti yang terlihat juga pada impor alat kesehatan dan vaksin di tahun kedua pandemi.

Secara rinci, Kemenkeu mencatat penerimaan cukai 2021 sebesar Rp195,5 triliun atau 108,6 persen dari target (tumbuh 10,9 persen yoy); penerimaan bea masuk Rp38,9 triliun atau 117,2 persen dari target (tumbuh 19,9 persen yoy); dan penerimaan bea keluar Rp34,6 triliun atau 1.933,7 persen dari target (melonjak 708,2 persen yoy).

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Bea Cukai alat kesehatan Vaksin Covid-19
Editor : Hadijah Alaydrus

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode Bisnis Indonesia Logo Epaper
To top