Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Menperin Sebut Larangan Ekspor Kunci Hilirisasi

Menteri Agus menyebut hilirisasi nickel ore menjadi baja nirkarat di Morowali mampu menggandakan nilainya sebanyak 50 kali lipat dari US$50/ton menjadi US$2.000/ton.
Andi M. Arief
Andi M. Arief - Bisnis.com 03 Februari 2020  |  06:26 WIB

Bisnis.com, JAKARTA - Kementerian Perindustrian (Kemenperin) memilih untuk menunggu beleid pelarangan ekspor bahan baku, khususnya komoditas mineral dan minyak sawit, karena nilai tambah dari hilirisasi akan lebih menguntungkan dibandingkan dengan ekspor bahan baku.

Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita mencontohkan hilirisasi nickel ore menjadi baja nirkarat di Morowali. Hilirisasi tersebut menggandakan nilai nickel ore sebanyak 50 kali lipat dari sekitar US$50/ton menjadi sekitar US$2.000/ton saat menjadi baca nirkarat.

"Larangan itu bisa memacu kinerja di sektor industri hulu, sekaligus juga diharapkan dapat mengundang investasi sektor tersebut masuk ke Indonesia,” katanya dalam keterangan tertulis, Senin (3/2/2020).

Dia menambahkan pabrikan di Morowali sudah menembus nilai ekspornya sebesar US$4 miliar, baik itu pengapalan produk hot rolled coil maupun cold rolled coil ke Amerika Serikat dan China. Dari sisi investasi, kawasan industri Morowali telah menyerap US$3,4 miliar pada 2017 menjadi US$5 miliar pada 2018 dengan total tenaga kerja saat ini mencapai 30.000 orang.

Agus menilai hilirisasi dapat menjaga kekuatan perekonomian nasional agar tidak mudah terombang-ambing di tengah fluktuasi harga komoditas. Menurutnya, hilirisasi industri telah memberikan multiplier effect yang luas, baik itu penerimaan negara melalui ekspornya maupun penyerapan tenaga kerja yang bertambah.

Adapun, hilirisasi tersebut perlu ditopang penggunaan teknologi industri 4.0 untuk menggenjot produktivitas dan lebih efisien. Pihaknya akan menjadikan adopsi teknologi industri 4.0 sebagai salah satu program utama. 

“Sejalan hal itu, pemerintah sedang mendorong peningkatan kualitas sumber daya manusia dan kegiatan litbang untuk inovasi. Itu menjadi keunggulan komparatif Indonesia dibanding negara lain,” imbuhnya.

Selain mineral, Agus menyatakan pelarangan ekspor minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) juga menjadi fokus utama. Pasalnya, lanjutnya, pemerintah sedang membangun program B30 dan dalam dua tahun akan dikembangkan menjadi B100.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

industri hilirisasi
Editor : Rio Sandy Pradana
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top