IBU KOTA DIPINDAH : Ini Pendapat Deputi Gubernur Bank Indonesia

Presiden Joko Widodo telah memutuskan bahwa ibu kota negara akan dipindahkan ke luar Pulau Jawa, tepatnya di Kalimantan Timur. Alasannya, daya dukung DKI Jakarta dinilai sudah terlalu padat, rentan bencana, serta tingkat kemacetan lalu lintas yang tinggi.
Puput Ady Sukarno & Sri Mas Sari
Puput Ady Sukarno & Sri Mas Sari - Bisnis.com 11 September 2019  |  19:18 WIB
IBU KOTA DIPINDAH : Ini Pendapat Deputi Gubernur Bank Indonesia
Deputi Gubernur Bank Indonesia Dody Budi Waluyo menyampaikan hasil-hasil Forum Pembiayaan Infrastruktur dalam konferensi pers Pertemuan Tahunan IMF - World Bank Group 2018 di Nusa Dua, Selasa (9/10/2018). - ANTARA/Nyoman Budhiana

Presiden Joko Widodo telah memutuskan bahwa ibu kota negara akan dipindahkan ke luar Pulau Jawa, tepatnya di Kalimantan Timur. Alasannya, daya dukung DKI Jakarta dinilai sudah terlalu padat, rentan bencana, serta tingkat kemacetan lalu lintas yang tinggi.

Menurut Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) rencana pemindahan ibu kota yang diproyeksikan menelan hingga Rp446 triliun itu padahal hanya untuk lokasi perkantoran pemerintahan.

Adapun, untuk kantor jasa keuangan seperti Bank Indonesia (BI) dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) tetap berada di Jakarta, sebagai pusat bisnis di Indonesia.

Deputi Gubernur Bank Indonesia Dody Budi Waluyo mengatakan bahwa sampai saat ini BI masih belum memiliki studi yang mendetail terkait dengan rencana pemindahan ibu kota.

Namun demikian, apabila mencontoh pada sejumlah negara lain yang telah melakukan pemindahan ibu kota, seperti Washington dan Canberra, yang juga ada bank sentralnya, keberadaan bank sentral harus dekat dengan ibu kota. Dengan demikian, keberadaan BI juga seharusnya akan pindah jika ibu kota negara dipindah.

“Tapi kalau dibayangkan seperti di Washington atau Canberra, dan undang-undang juga mengatakan harus dekat dengan ibu kota, berarti pindah,” ujarnya.

Akan tetapi, status Jakarta yang nantinya tetap sebagai pusat bisnis di Indonesia, maka keberadaan bank sentral di pusat lebih besar dibandingkan dengan keberadaan bank sentral di ibu kota.

“Jakarta masih sebagai pusat bisnis. The Fed New York itu lebih besar daripada The Fed sister-nya yang ada di Washington. Kalau untuk yang di Canberra itu juga ada bank sentralnya, tetapi yang terbesar tetap di Sydney. Jadi, tergantung Bappenas bagaimana melihatnya,” ujarnya.

Kendati demikian, Dody melihat dalam konteks pemerataan, pertumbuhan ke luar Jawa terus didorong sehingga tidak terkonsentrasi di Jawa. Dengan demikian, pemindahan ibu kota seharusnya menjadi solusi yang bagus.

“Dari sisi ekonomi juga akan lebih baik. Tinggal implementasinya bagaimana. Saya rasa yang terpenting adalah prioritasnya,” ujarnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Ibu Kota Dipindah, bank indonesia

Sumber : Bisnis Indonesia

Editor : Hendra Wibawa

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top