APRCE 2021: Aprindo Bakal Libatkan Peran UMKM

Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) akan memboyong pelaku Usaha Kecil Mikro dan Menengah (UMKM) pada penyelenggaraan Asia Pacific Retail Conference and Exhibition (APRCE) 2021 yang akan digelar di Bali.
Rezha Hadyan
Rezha Hadyan - Bisnis.com 11 September 2019  |  15:28 WIB
APRCE 2021: Aprindo Bakal Libatkan Peran UMKM
Presiden Joko Widodo (kiri) bersama Ibu Negara Iriana Joko Widodo (kedua kiri) meninjau stan UMKM nasabah Mekaar binaan Permodalan Nasional Madani (PNM) di Lapangan Cepoko, Kecamatan Panekan, Kabupaten Magetan, Jawa Timur, Jumat (1/2/2019). - ANTARA/Akbar Nugroho Gumay

Bisnis.com, JAKARTA — Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) akan memboyong pelaku Usaha Kecil Mikro dan Menengah (UMKM) pada penyelenggaraan Asia Pacific Retail Conference and Exhibition (APRCE) 2021 yang akan digelar di Bali.

APRCE merupakan pertemuan sekaligus pameran mengenai industri ritel modern yang digelar setiap dua tahun sekali oleh Federasi Retail Asia Pasific (Federation of Asia Pacific Retailers Associations/FAPRA).

Ketua Umum Aprindo Roy Nicholas Mandey menyebut, pihaknya akan mengadakan forum link and match pada penyelenggaraan APRCE 2021. Forum tersebut disiapkan khusus untuk mempertemukan pelaku usaha UMKM di Tanah Air dengan pelaku usaha ritel modern yang hadir dari sejumlah negara di Asia dan Pasifik.

“Forum link and match ini dilakukan untuk pertama kalinya selama penyelenggaraan APRCE. UMKM kita yang selama ini sudah punya akses ke ritel modern atau UMKM unggulan yang dibina oleh kementerian terkait silakan mengikuti forum link and match untuk memperluas pasarnya ke luar negeri,” katanya kepada Bisnis.com.

Saat ini produk UMKM yang dijual melalui ritel modern di Tanah Air masih didominasi oleh produk makanan dan minuman dengan persentase mencapai 80%. Adapun, secara keseluruhan persentase produk UMKM terhadap keseluruhan produk yang dijual baru mencapai 30%.

Selain forum link and match, pada penyelenggaraan APRCE 2021 Aprindo akan memfasilitasi pelaku usaha ritel modern dari luar negeri yang berniat menanamkan modalnya di Indonesia lewat Investment and Information Services.

“Kami akan membuka kesempatan bagi Kementerian Investasi atau saat ini Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) untuk memberikan pengarahan, mungkin melalui seminar khusus mengenai investasi di Indonesia, ini juga untuk pertama kalinya selama [penyelenggaraan] APRCE,” ujar Roy.

Lebih lanjut, Roy menjelaskan APRCE 2021 yang akan digelar pada pekan pertama Oktober 2021 merupakan peluang untuk mempromosikan sektor pariwisata Indonesia. Oleh karena itu, dia berharap adanya dukungan penuh dari pemerintah khususnya Kementerian Pariwisata agar APRCE 2021 bisa memberikan kontribusi besar terhadap sektor pariwisata di Tanah Air.

“Pesertanya bisa mencapai 20.000 orang, mereka tentu akan menikmati sejumlah destinasi wisata di Bali atau mungkin di luar Bali, sangat potensial,” ungkapnya.

Adapun mengenai tema yang akan diangkat pada penyelenggaraan APRCE 2021, Roy menyebut pihaknya sampai saat ini masih belum bisa memastikan lantaran belum mengadakan pembicaraan lebih lanjut dengan pemerintah.

Sejauh ini, Aprindo baru memberikan laporan terkait dengan terpilihnya Indonesia sebagai tuan rumah APRCE 2021 kepada Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita.

“Aprindo masih menunggu kesempatan audiensi dengan Presiden Jokowi. [Adapun] untuk pembahasan lebih lanjut, termasuk tema [yang akan diangkat] kemungkinan akan menunggu penetapan kabinet baru terlebih dahulu. Karena berkaitan dengan pergantian menteri di kementerian yang menjadi induk kami, (Kementerian Perdagangan) dan juga kementerian-kementerian terkait lainnya,” ujarnya.

Namun, Roy memastikan tema yang nantinya akan menjadi pembahasan utama APRCE 2021 akan sejalan dengan kepentingan nasional Indonesia, khususnya upaya mendongkrak pertumbuhan ekonomi nasional.

Sebagai catatan, pengukuhan Indonesia sebagai tuan rumah APRCE 2021 dilakukan pada penyelenggaraan APRCE 2019 di Chongqing, Tiongkok pada 7—9 September 2019.  APRCE 2021 merupakan kali kedua bagi Indonesia setelah sempat menjadi tuan rumah APRCE 2001.

Secara terpisah, Dirjen Pengembangan Ekspor Nasional (PEN) Kemendag Dody Edward menyebut, APRCE 2021 merupakan peluang untuk mendorong peningkatan ekspor Indonesia, terutama untuk produk-produk yang dapat dipasarkan melalui ritel modern.

Dia juga berharap APRCE 2021 dapat menjadi ajang menambah wawasan dan pengetahuan bagi pelaku usaha ritel modern di Indonesia untuk meningkatkan kreativitas dan inovasi dalam menyemarakkan pasar Indonesia dan menjaga stabilitas pertumbuhan konsumsi nasional.

“Pada APRCE 2021 tentunya akan hadir perusahaan jaringan ritel modern internasional se-Asia Pasifik, selain untuk berkonferensi dan berpameran tentu saja mereka akan melakukan sourcing. Peluang ini yang harus kita tangkap. Dari sisi supply, Indonesia menawarkan pilihan bagi industri ritel modern global dengan harga yang kompetitif,” kata Dody kepada Bisnis.com.

Dody menambahkan, selama ini sektor ritel berperan cukup besar terhadap Pendapatan Domestik Bruto Nasional (PDB) dengan persentase lebih dari 15%. Adapun, sampai saat ini tercatat sejumlah pelaku usaha ritel modern yang berhasil melakukan ekspansi ke luar negeri.

“Dari data yang ada, terdapat beberapa ritel Indonesia yang go internasional, seperti Alfamart dengann 174 gerainya di Filipina, J.Co yang punya 60 gerai di empat negara, yakni Malaysia, Singapura, Filipina, dan Hongkong,” paparnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
ritel modern

Editor : Wike Dita Herlinda

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top