Plus Minus Keputusan Penurunan Asumsi ICP

Rencana pemerintah untuk menurunkan asumsi Indonesian Crude Price (ICP) dinilai sejumlah pengamat memiliki dampak positif serta negatif.
Lorenzo Mahardhika
Lorenzo Mahardhika - Bisnis.com 29 Agustus 2019  |  11:23 WIB

Bisnis.com, JAKARTA – Rencana pemerintah untuk menurunkan asumsi Indonesian Crude Price (ICP) dinilai sejumlah pengamat memiliki dampak positif serta negatif.

Usulan tersebut diungkapkan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Ignasius Jonan dalam rapat kerja bersama Komisi VII DPR RI di Jakarta, Rabu (28/8/2019). Ia hendak menurunkan asumsi harga ICP dari US$65 seperti yang tercantum pada nota keuangan RAPBN 2020 menjadi US$60.

Ekonom Bank UOB Enrico Tanuwidjaja mengatakan, penurunan asumsi ICP akan memiliki efek positif dan negatif. Sebagai salah satu importir minyak terbesar, Indonesia akan meraih keuntungan yang cukup signifkan.

Lesunya perekonomian global membuat Indonesia dapat menghemat biaya impor energi. Hal ini karena faktor tersebut juga didukung dengan rendahnya harga minyak saat ini.

Di sisi lain, posisi Indonesia sebagai salah satu negara eksportir minyak mentah tertinggi di dunia juga akan berdampak negatif. Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) Indonesia dari sektor sumber daya alam minyak dan gas (SDA migas) akan merosot.

“Kemampuan oil lifting yang saat ini sedang turun juga perlu dikaji lebih jauh lagi agar pemasukan dari SDA migas bisa mendekati atau sesuai target,” terangnya.

Selain itu, penurunan harga minyak dapat mendorong pertumbuhan ekonomi pada sejumlah sektor, contohnya pelaku usaha jasa angkutan. Kombinasi harga yang turun serta bea impor yang mengikuti tren harga minyak dapat mengurangi biaya yang harus dikeluarkan pelaku usaha.

Hal serupa juga dikatakan Ekonom Bank Permata Josua Pardede. Menurutnya, kendati berpotensi tidak mencapai target PNBP SDA migas, pemerintah diyakini sudah mempertimbangkan kondisi perekonomian global dalam menentukan penurunan asumsi tersebut.

“Baik Menteri ESDM maupun Menteri Keuangan saya rasa sudah mempertimbangkan kondisi dunia yang masih lemah pergerakannya, khususnya dari permintaan minyak global dunia yang turun,” katanya.

Josua memperkirakan perlambatan ekonomi dunia masih akan berlanjut pada 2020. Salah satu faktor utamanya adalah perang dagang antara Amerika Serikat dan China yang tak kunjung mereda.

Kendati demikian, Josua mengatakan bila negara dapat menjaga pertumbuhan ekonominya pada kisaran 5% sepanjang tahun depan, Indonesia kemungkinan tidak akan terpapar dampak-dampak negatif secara signifikan.

Enrico juga menambahkan, pertumbuhan ekonomi dunia yang terhambat juga akan berefek pada harga minyak dunia yang diperkirakan terus menurun.

Dirinya mengaku optimistis Indonesia tidak akan terpapar dampak negatif perang dagang secara signifikan. Hal ini terlihat pada RAPBN 2020 yang akan berupaya menjadikan konsumsi rumah tangga sebagai bantalan ekonomi.

“Oleh karena itu, akan banyak kebijakan-kebijakan yang dikeluarkan untuk mendukung perekonomian secara fiskal. Kita juga telah melihat kebijakan Bank Indonesia yang menurunkan suku bunga acuan sebanyak dua kali hingga pada titik 5,50%,” ungkap Enrico.

Ia melanjutkan, negara harus memanfaatkan perlambatan ekonomi global untuk melihat pangsa pasar domestik yang dapat digenjot untuk memicu pertumbuhan yang lebih baik. Faktor-faktor produksi dan bahan lokal harus dijadikan komoditas ekspor yang mumpuni.

“Dengan ekspor yang didukung dengan rate yang kompetitif dan suku bunga yang turun, seharusnya pertumbuhan ekonomi Indonesia bisa sustainable dan bahkan melebihi target,” katanya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
icp

Editor : Achmad Aris

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top