Pelemahan Kinerja Dagang Masih Hantui Pelaku Industri

Kalangan usaha memperkirakan pelemahan kinerja perdagangan RI masih akan terus terjadi hingga akhir tahun ini, sehingga kinerja sektor industri masih belum membaik.
Yustinus Andri DP
Yustinus Andri DP - Bisnis.com 16 Agustus 2019  |  09:42 WIB
 Pelemahan Kinerja Dagang Masih Hantui Pelaku Industri
Kapal Logistik Nusantara 4 yang melayani tol laut menurunkan kontainer muatannya saat bersandar di dermaga Pelabuhan Makassar, Sulawesi Selatan, Kamis (28/6/2018). - JIBI/Paulus Tandi Bone

Bisnis.com, JAKARTA — Kalangan usaha memperkirakan pelemahan kinerja perdagangan RI masih akan terus terjadi hingga akhir tahun ini, sehingga kinerja sektor industri masih belum membaik.

Wakil Ketua Bidang Perdagangan Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Benny Soetrisno mengatakan, dia mendesak agar pemerintah segera merelaksasi aturan ekspor, terutama untuk produk manufaktur di tengah kondisi perekonomian global yang masih melambat. 

Hal itu menurutnya, dibutuhkan agar laju ekspor kembali tumbuh dan impor terhadap barang-barang yang produktif, terutama untuk sektor industri kembali pulih.

“Impor bahan baku penolong dan barang modal pada Juli sudah tumbuh secara bulanan. Kondisi ini baik, sebab tandanya industri kita bergeliat lagi. Namun pemerintah harus memastikan, laju ekspor juga turut tumbuh, ” ujarnya, ketika dihubungi oleh Bisnis.com, Kamis (15/8/2019).

Dia mengaku khawatir, laju impor bahan baku penolong dan barang modal yang mulai tumbuh pada Juli, akan kembali terkoreksi pada sisa akhir tahun ini lantaran industri masih kesulitan untuk melakukan ekspor. Pasalnya, menurutnya, saat ini masih terdapat pelaku industri yang belum terlalu yakin untuk berekspansi secara lebih jauh.

Untuk itu, dia meminta agar pemerintah mempercepat pembentukan perjanjian dagang bilateral dan membentuk kesepakatan dagang secara nonformal kepada sejumlah negara mitra dagang baru. Di sisi lain secara jangka pendek, dia menyarankan agar pemerintah menurunkan bunga pembiayaan ekspor yang tergolong masih tinggi.

Tanpa ada terobosan baru dari pemerintah, dia khawatir laju ekspor dan impor Indonesia akan terus melemah hingga akhir tahun. Akibatnya, industri domestik akan turut terkoreksi kinerjanya, sehingga menekan laju pertumbuhan nasional.

Adapun, berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), impor migas RI pada Juli berhasil tumbuh menjadi US$15,51 miliar dari bulan  sebelumnya yang mencapai US$11,50 miliar. 

Impor bahan baku penolong berhasil tumbuh 29,01% secara bulanan pada Juli menjadi US$11,27 miliar dari bulan sebelumnya. Sementara itu, laju impor barang modal tumbuh 60,73% secara bulanan menjadi US$2,78 miliar. 

Namun demikian, sepanjang Januari-Juli 2019, laju impor bahan baku penolong masih terkoreksi 9,55% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Begitu pula dengan impor barang modal sepanjang Januari-Juli 2018  yang turun 5,71% secara year on year (yoy) menjadi US$15,94 miliar.

Sementara itu, Wakil Ketua Umum Bidang Industri Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Johnny Darmawan mengatakan, dia optimistis laju impor bahan baku penolong dan barang modal yang kembali tumbuh pada Juli, akan terus berlanjut hingga akhir tahun. Mulai kondusifnya kondisi politik di dalam negeri, membuat para pelaku industri manufaktur RI kembali berminat untuk meningkatkan kembali produksinya.

“Sepanjang semester I/2019 pelaku industri masih wait and see. Sebab kondisi politik belum stabil. Sekarang kondisinya jauh lebih baik, sehingga impor bahan baku penolong dan barang modal akan kembali positif dan tidak seburuk awal tahun ini,” katanya.

Namun, menurutnya, dengan kondisi perekonomian global yang masih mengalami tekanan, laju pertumbuhan industri dalam negeri belum akan terlalu ekspansif dan sebaik tahun lalu. Dia mengatakan, para pelaku sektor manufaktur RI akan cenderung memanfaatkan pasar domestik terlebih dahulu.

Alhasil, dia memperkirakan, defisit neraca perdagangan RI masih akan terjadi hingga akhir tahun. Pasalnya, industri dalam negeri akan tetap terus mengimpor bahan baku penolong dan barang modal, hanya untuk memenuhi kebutuhan pasar dalam negeri. 

“Maka dari itu, saya harap ada terobosan baru dari pemerintah untuk memacu ekspor. Kalau tidak, ada terobosan baru, defisit akan terus terjadi karena pasar ekspor terus menyempit dan industri akan terus mengandalkan pasar dalam negeri saja,” jelasnya.

Terpisah, Direktur Jenderal Perdagangan Luar Negeri Kementerian Perdagangan Wisnu Wardhana mengatakan, pemerintah masih terus mengupayakan pembukaan pangsa pasar ekspor produk RI. Hal itu menurutnya, dibutuhkan agar industri dalam negeri, terutama yang berbasis ekspor dapat terus bergeliat.

“Fokus kita saat ini membuka pasar ekspor baru dengan menjalin kerja sama dagang baru. Kami ingin memastikan ekspor dapat tumbuh kembali, sehingga industri bergeliat dan neraca perdagangan kita surplus kembali,” ujarnya. 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Neraca Perdagangan

Editor : Wike Dita Herlinda

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top