Obligasi Eropa 'Taruhan' Teraman di Tengah Kekhawatiran Perang Mata Uang

Ancaman yang meningkat dari perang mata uang global telah memacu reli obligasi Eropa yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Nirmala Aninda
Nirmala Aninda - Bisnis.com 07 Agustus 2019  |  23:23 WIB
 Obligasi Eropa 'Taruhan' Teraman di Tengah Kekhawatiran Perang Mata Uang
Kanptr pusat Bank Sentral Eropa (ECB) di Frankfurt, Jerman - Reuters/Alex Domanski

Bisnis.com, JAKARTA -- Ancaman yang meningkat dari perang mata uang global telah memacu reli obligasi Eropa yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Di saat ketegangan perang dagang telah memicu arus modal berpindah ke aset teraman di zona euro, Bank Sentral Eropa (ECB) yang meripakan pembeli utama utang di kawasan ini nampaknya akan memiliki saingan, yakni Bank Sentral Swiss (SNB).

Perselisihan antara Amerika Serikat dan China yang menyebabkan gejolkak pasar di seluruh dunia, justru telah menciptakan kondisi yang positif bagi franc Swiss, surga bagi para investor.

Namun, Commerzbank AG berpendapat bahwa reli mata uang Swiss tersebut ke level tertinggi dalam dua tahun terakhir akan mengancam ambisi SNB untuk memacu inflasi.

"Pada saat yang sama bank sentral mungkin akan melakukan intervensi guna mengendalikan nilai tukar, dengan membeli euro, dan kemudian berinvestasi dalam obligasi daerah," tutur Commerzbank AG seperti dikutip melalui Bloomberg, Rabu (7/8).

Acuan (benchmark) imbal hasil Jerman telah merosot ke rekor terendah sebesar -0,55% pekan ini setelah AS secara resmi menyebut China sebagai manipulator mata uang, dalam tanggapan keras Washington atas sikap PBOC yang melemahkan yuan ke level terendah sejak 2008.

SNB mungkin sudah mulai melakukan intervensi terhadap franc.

Bank sentral Swiss tersebut tampaknya telah membeli mata uang asing lagi pekan lalu setelah meningkatnya ketegangan perdagangan mendorong nilai safe-franc Swiss lebih tinggi terhadap euro.

Menurut data yang diterbitkan Senin (5/8), sight deposit, proxy untuk intervensi mata uang bank sentral, naik 1,6 miliar franc menjadi 582,7 miliar franc atau senilai US$598 miliar dalam pekan yang berakhir 2 Agustus.

Kepala Strategi Tingkat Suku Bunga di Commerzbank, Christoph Rieger, mengatakan bahwa perkembangan terbaru pada valutan asing dapat berarti SNB akan melakukan intervensi, yang membuat ECB harus bersaing dalam permintaan untuk obligasi Eropa.

"Jika bank sentral Swiss mulai membeli [mata uang asing], Anda dapat memilih seberapa rendah imbal hasil akan merosot," katanya.

Jika SNB mulai secara aktif membeli hutang, bank sentral dapat menemukan dirinya berlomba-lomba dengan ECB untuk menyerap obligasi pemerintah daerah.

Pasar secara umum telah memperkirakan bahwa ECB akan mengumumkan rencana penambahan persedian utang pada September sebesar 2,6 triliun eurodalam upaya untuk membawa inflasi kembali ke titik terdekat, namun masih di bawah target 2%.

"Kondisi ini akan menarik lebih banyak pemain ke pasar obligasi pemerintah Eropa. Terlepas dari seberapa negatifnya mereka, saya tidak melihat trennya akan meredup untuk saat ini," kata James Athey, seorang manajer keuangan di Aberdeen Standard Investments.

Ancaman perang mata uang besar-besaran mengalami meningkat karena bank sentral telah beralih kembali ke mode pelonggaran, diawali dengan The Fed yang memangkas suku bunga pekan lalu serta ECB yang mengisyaratkan langkah-langkah stimulus lanjutan.

Menurut Allianz Global Investors, Prospek bank sentral Swiss memasuki pasar berarti reli obligasi Eropa mungkin masih memiliki ruang untuk tumbuh.

Seluruh kurva Jerman sekarang menawarkan imbal hasil kurang dari nol, berbanding terbalik pada gagasan bahwa investor dibayar untuk meminjamkan uang, sementara imbal hasil di Perancis dan Spanyol juga telah jatuh ke rekor terendah.

"SNB memiliki daya yang cukup kuat untuk menyebabkan pergerakan besar pada obligasi pemerintah Eropa. Imbal hasil obligasi dapat turun secara signifikan di berbagai pasar jika SNB melakukan strategi ini," kata manajer keuangan Allianz, Mike Riddell.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Obligasi

Editor : Mia Chitra Dinisari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top