Ini Tantangan Utama Pembangunan 4 Destinasi Wisata 'Super Prioritas'

Pemerintah mengebut penyelesaian pembangunan empat destinasi super prioritas, yaitu Danau Toba, Candi Borobudur, Mandalika, dan Labuan Bajo.
Yanita Petriella
Yanita Petriella - Bisnis.com 29 Juli 2019  |  13:17 WIB
Ini Tantangan Utama Pembangunan 4 Destinasi Wisata 'Super Prioritas'
Sejumlah wisatawan berada di pinggiran pantai Kawasan Ekonomi Khusus Mandalika di Desa Kuta, Kecamatan Pujut, Praya, Lombok Tengah, NTB, Selasa (18/9/2018). - ANTARA/Ahmad Subaidi

Bisnis.com, JAKARTA — Pemerintah mengebut penyelesaian pembangunan empat destinasi super prioritas, yaitu Danau Toba, Candi Borobudur, Mandalika, dan Labuan Bajo.

Keempat destinasi tersebut merupakan bagian dari megaproyek pariwisata 10 Bali Baru. Semuanya ditujukan untuk meratakan kunjungan wisatawan mancanegara (wisman), yang selama ini terkonsentrasi di Bali (40%), DKI Jakarta (30%), dan Kepulauan Riau (20%).

Ketua Tim Percepatan 10 Destinasi Pariwisata Prioritas Kementerian Pariwisata Hiramsyah S. Thaib menjelaskan, pembangunan di empat destinasi super prioritas itu fokus pada aspek konektivitas, sarana/prasarana wisata, serta sumber daya manusia.

“Keempat destinasi super prioritas ini memang saat ini belum signifikan untuk menambah atau menarik wisman.  Dampak kedatangan wisatawan akibat adanya destinasi super prioritas ini akan baru kerasa 2 hingga 3 tahun mendatang,” jelasnya kepada Bisnis.com, belum lama ini.

Sepanjang tahun lalu jumlah kunjungan wisatawan ke Kabupaten Magelang mencapai 6,36 juta terdiri atas 5,9 juta wisatawan nusantara (wisnus) dan 350.000 wisatawan mancanegara (wisman) yang sekitar 60% di antaranya mengunjungi Candi Borobudur.

 Adapun tingkat kunjungan wisatawan di Candi Borobudur sebanyak 3,66 juta untuk wisnus dan 192.231 orang untuk wisman di tahun lalu. 

Di Labuan Bajo sendiri, kunjungan wisatawan baik wisman dan wisnus sepanjang tahun mencapai 163.807 orang, sedangkan di Mandalika mencapai 153.715 orang. Untuk Danau Toba dikunjungi sebanyak 250.000 wisman dan sepanjang tahun lalu. 

Menurut Hiramsyah, kendala terbesar dalam pembangunan keempat destinasi super prioritas adalah sinkronisasi kebijakan. Untuk itu, diperlukan revisi kebijakan agar destinasi pariwisata Indonesia bisa bersaing dengan negara lain.

"Butuh koordinasi luar biasa baik antar kementerian dan lembaga. Tantangan terbesar itu saat ini ya koordinasi," ucapnya. 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
pariwisata

Editor : Wike Dita Herlinda

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top