SDM Koperasi & UKM di Banyumas Dapat Pelatihan untuk Genjot Omzet

Kementerian Koperasi dan UKM berupaya meningkatkan kapasitas sumber daya manusia koperasi dan UKM di daerah melalui pelatihan.  
Agne Yasa & Sri Mas Sari
Agne Yasa & Sri Mas Sari - Bisnis.com 13 Juli 2019  |  20:48 WIB
SDM Koperasi & UKM di Banyumas Dapat Pelatihan untuk Genjot Omzet
Suasana pelatihan SDM koperasi dan UKM di PUrwokero, Jawa Tengah. - istimewa

Bisnis.com, JAKARTA – Kementerian Koperasi dan UKM berupaya meningkatkan kapasitas sumber daya manusia koperasi dan UKM di daerah melalui pelatihan.  

Adapun hal ini juga dalam rangka mendukung peringatan Hari Koperasi Nasional ke-72 yang tahun ini diadakan di Purwokerto Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah. Pelatihan kali ini melibatkan 205 peserta dari pelaku koperasi dan UKM di daerah setempat. 

“Kita gelorakan semangat Hari Koperasi melalui salah satunya kegiatan pelatihan ini. Mumpung semangat dan geloranya ada di Purwokerto, maka kita gelorakan lebih dalam lagi melalui pelatihan ini,” kata Deputi Bidang Pengembangan SDM, Kemenkop dan UKM, Rulli Nuryanto, melalui rilis yang diterima Bisnis, Sabtu (13/7/2019). 

Setidaknya ada empat jenis pelatihan yang diadakan, yaitu pelatihan vokasional, pelatihan perkoperasian, pelatihan kewirausahaan serta pelatihan dan uji kompetensi bidang ritel koperasi. Untuk masing-masing pelatihan diikuti oleh 30 peserta. Selain pelatihan, juga diadakan workshop technopreneur yang diikuti 85 peserta.

“Saya meninjau langsung bagaimana semangatnya para peserta dalam mengikuti kegiatan itu. Sangat luar biasa dan interaksi peserta dengan narasumber juga sangat bagus. Mudah-mudahan kegiatan ini menjadi inspirasi bagi mereka dalam meningkatkan usahanya,” ujar Rulli.

Dia menambahkan peserta yang ikut sangat beragam mulai dari yang sudah terjun langsung, baru mulai dan akan memulai. 

"Mudah-mudahan mereka yang akan mulai, ke depannya menjadi wirausahawan, yang baru berjalan bisa lebih berkembang dan, yang sudah berjalan bisa lebih kreatif dan inovatif,” ujarnya.

Rulli mengatakan konsep Pelatihan lebih menitikberatkan pada aspek praktik lapangan, sisanya diisi teori dari nara sumber dengan proporsi 70 : 30. 

“Kita tidak berhenti sampai di sini saja, tetapi ada keberlanjutan. Kami sudah ada sistem untuk monitoring pelatihan yang dilakukan oleh Sekretaris Deputi Bidang SDM," tambah Rulli.

Cocos Trisada, salah seorang peserta pelatihan, mengaku merasakan manfaatkan mengikuti pelatihan yang dilakukan Kemenkop dan UKM. Cocos mengikuti pelatihan berupa pengenalan kewirausahaan, sosialisasi Lamikro (aplikasi pembukuan akuntansi melalui smartphone) dan sosialisasi fintech syariah.

“Ini karena difasilitasi Kementerian Koperasi dan UKM, kami mendapatkan hal yang baru dalam pelatihan ini terutama ilmu yang diberikan yang nantinya bisa menjadi acuan bagi pelaku usaha untuk bisa berkembang dari sebelumnya,” ujarnya. 

Sisi positif lain, lanjutnya, untuk masalah permodalan yang jadi kendalan bagi pelaku KUKM  Ada satu kemudahan ketika pelaku UKM dapat mengakses pinjaman modal tanpa jaminan melalui fintech syariah. 

Cocos merupakan pelaku UKM bidang kerajinan tangan asal Purwokerto, sekaligus Ketua Bidang Pengembangan Forum UKM Banyumas Raya (Forumara).

Menurut Cococs, pelatihan peningkatan kualitas SDM pelaku usaha sangat penting untuk dilakukan dalam upaya menghadapi era industri 4.0. Sebab dikatakan era industri 4.0 harus dijadikan sebagai peluang emas untuk meningkatkan kinerja usaha para pelaku usaha Tanah Air.

Sementara itu, Ershad, salah seorang peserta pameran Harkopnas Expo 2019, asal Desa Mijen Kecamatan Kebon Agung Demak mengaku pernah mengikuti pelatihan Kemenkop dan UKM tahun 2018. Ershad merupakan pelaku UKM kerajinan logam. 

Dia menambahkan peran Kemenkop dan UKM dalam membantu mempromosikan produknya. Setelah mengikuti pelatihan tahun lalu, katanya, pihaknya difasilitasi Kementerian Koperasi dan UKM untuk mengikuti Harkopnas Expo 2019 di Banyumas.  

Ershad mengatakan usaha kerajinan logam di desanya muncul 6 tahun terakhir dan usahanya kian meningkat dengan omzet rata-rata Rp150 juta hingga Rp300 juta setiap bulan.

Hasil kerajinan logam yang dipasok dari limbah elektronik juga digemari pasar domestik dan mancangera seperti Suriname, Austria, Selandia Baru, dan Hong Kong.  

“Kapasitas produksi kami bisa 12.000 item per bulan dengan omzet yang lumayan. Sekarang kami merencanakan akan mengikuti pameran luar negeri,” ucapnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
koperasi, ukm

Editor : M. Syahran W. Lubis

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top