Indonesia Butuh Desainer Perhiasan

Kementerian Perindustrian melalui Ditjen Industri Kecil dan Menengah terus mendorong pertumbuhan industry perhiasan di Indonesia melalui fasilitasi pameran perhiasan yang rutin dilaksanakan dua kali dalam setahun yaitu April dan Oktober.
Dewi Andriani
Dewi Andriani - Bisnis.com 30 Juni 2019  |  09:59 WIB

Bisnis.com, JAKARTA -- Prospek industri perhiasan di Indonesia diperkirakan bakal semakin mengilap seiring dengan meningkatnya jumlah masyarakat kelas menengah di Indonesia. Apalagi banyak masyarakat Indonesia yang menjadikan perhiasan, khususnya emas, bukan hanya untuk kebutuhan fesyen semata tetapi juga investasi.

Kementerian Perindustrian melalui Ditjen Industri Kecil dan Menengah terus mendorong pertumbuhan industry perhiasan di Indonesia melalui fasilitasi pameran perhiasan yang rutin dilaksanakan dua kali dalam setahun yaitu April dan Oktober.

“Kami mendorong agar para perajin mengetahui apa yang dibutuhkan pasar sehingga mereka akan memproduksi suatu barang yang benar-benar dibutuhkan pasar. Untuk itu kami fasilitasi dengan pameran,” ujar Gati Wibawaningsih, Dirjen Industri Kecil dan Menengah (IKM) Kementerian Perindustrian.

Selain itu, sambungnya, tidak sedikit juga pemain yang saat ini memaksimalkan pemanfaatan media digital melalui marketplace sehingga memudahkan proses penjualan. Begitu pun pembeli, akan semakin banyak pilihan produk perhiasan yang sesuai dengan kebutuhan.

Selain dari pasar dalam negeri, Gati mengatakan bahwa industry perhiasan menjadi salah satu penghasil devisa yang cukup besar bagi Negara. Di tahun 2018 kemarin, ekspor perhiasan mencapai US$2,05 miliar. Beberapa Negara tujuan ekspor yang paling potensial atara lain Singapura, Hongkong, Eropa, Amerika, hingga Uni Eropa Arab.

“Target kami tahun ini bisa naik sekitar 10% hingga 11% karena ekonomi dunia sudah semakin membaik. Indonesia ini sebetulnya baru menyuplay 4% dari kebutuhan pasar industry perhiasan dunia, sehingga ini merupakan potensi besar untuk ditingkatkan,” tuturnya.

Adapun untuk impor perhiasan masih minim hanya sekitar US$106 juta, jauh di bawah nilai ekspor. Pasalnya, masyarakat Indonesia masih lebih senang menggunakan perhiasan dari dalam negeri dibandigkan dengan luar negeri.

Menurutnya, dari sisi daya saing, para perajin di Indonesia memiliki kualitas keterampilan yang mumpuni bahkan di atas Negara lain. Sayangnya, bicara soal desain, produk dalam negeri masih kurang baik, sebagian besar masih mengambil contoh dari luar negeri.

“Di Indonesia kita ngga punya sekolah desainer perhiasan. Padahal di beberapa Negara lain seperti Hong Kong bahkan Thailand itu ada desainer khusus perhiasa. Di sini lah kurangnya kita, dan ini harus terus didorong,” ujarnya.

 

Tren

Bicara soal tren, menurutnya saat ini, tren perhiasan emas bukan lagi yang berukuran besar dan berat dengan warna kuning pekat. Saat ini, semakin banyak masyarakat yang mulai memilih perhiasan emas dengan kadar dan gram yang lebih kecil, pembuatannya pun banyak yang menggunakan mesin dengan bentuk yang tipis.

Adapun untuk warna perhiasan emas yang kini mulai naik daun adalah emas dengan warna rose gold karena memberi kesan yang lebih manis bagi si pemakai. “Apalagi anak-anak muda sekarang ngga terlalu suka dengan emas yang berat-berat, mereka lebih suka yang tipis dan manis dengan warna rose gold, itu yang sekarang sedang naik daun,” tututnya.

Adapun untuk Standar Nasional Indonesia (SNI) perhiasan, saat ini masih dalam proses pembaharuan. Namun, secara umum tidak ada perbedaan yang berarti dibandingkan dengan SNI sebelumnya.

“Perkembangan ISO kan sekarang semakin maju. Jadi perubahan hanya mengatur kadar emasnya saja dan itu hanya dari metode pengujian yang diubah.”

 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
perhiasan

Editor : M. Taufikul Basari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top