PTPN X Target Produksi Gula 2019 Mencapai 350.000 Ton

Direktur Utama PTPN X Dwi Satriyo Annurogo menjelaskan target pertumbuhan tersebut tak lepas dari harapan kenaikan rendemen tebu pada musim ini.
Iim Fathimah Timorria
Iim Fathimah Timorria - Bisnis.com 29 Juni 2019  |  00:39 WIB
PTPN X Target Produksi Gula 2019 Mencapai 350.000 Ton
Buruh memanen tebu untuk dikirim ke pabrik gula di Ngawi, Jawa Timur, Selasa (8/8). - ANTARA/Ari Bowo Sucipto

Bisnis.com, JAKARTA – PT Perkebunan Nusantara (PTPN) X yang beroperasi di Jawa Timur menargetkan produksi gula tahun ini dapat mencapai 350.000 ton, naik sekitar 4 persen dibanding produksi selama musim giling 2018 yang berada di angka 335.839 ton.

Direktur Utama PTPN X Dwi Satriyo Annurogo menjelaskan target pertumbuhan tersebut tak lepas dari harapan kenaikan rendemen tebu pada musim ini.

Untuk awal musim, Dwi menyatakan rendemen masih di kisaran 7,8 persen. Angka tersebut diharapkan naik jelang puncak musim giling yang datang bertepatan dengan kemarau.

“Saat ini rendemen sekitar 7,8 persen, tahun lalu rata-rata 8,14 persen. Ini masih awal giling, ke depannya semoga naik terus dan bisa sampai 8,4 persen,” kata Dwi di Jakarta, Jumat (28/6/2019).

Target pertumbuhan produksi ini pun disebut Dwi disertai dengan upaya revitalisasi pabrik gula yang beroperasi di bawah PTPN X. Dari 9 pabrik yang ada, Dwi menjelaskan bahwa pihaknya tahun ini tengah menjalankan proses revitalisasi pada Pabrik Gula Gempolkrep di Kabupaten Mojokerto.

“Kami melakukan revitalisasi untuk peningkatan kapasitas dari 6.500 ton cane per day [TCD] menjadi 8.000 TCD di Pabrik Gula Gembolkrep. Tak hanya peningkatan kapasitas, kami juga mengarah pada pengembangan integrated sugar cane based industry,” papar Dwi.

Ia menjelaskan ke depannya perusahaan tak hanya akan berorientasi gula konsumsi namun juga pada bahan bakar etanol.

Proyek revitalisasi PG Gempolkrep sendiri bakal menguras anggaran sekitar Rp850 miliar yang berasal dari penyertaan modal negara. Proyek yang diperkirakan rampung pada 2020 mendatang ini ia sebut bakal berdampak pada kenaikan produksi gula sebesar 10.000 sampai 20.000 ton.

Selain revitalisasi di sektor hilir, Dwi mengungkapkan bahwa pihaknya secara bertahap tengah merealisasikan peremajaan pada sekitar 25 persen lahan yang mengalami penurunan produktivitas.

“Idealnya lahan kalau sudah ratoon keempat itu dibongkar dan diremajakan [replanting], ada sekitar 25 persen. Saat ini baru sekitar 11-12 persen, tapi kami sekarang mengarah ke 25 persen secara bertahap,” terangnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
gula

Editor : M. Taufikul Basari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top