Kementan Sebut Revitalisasi Lini Industri Gula sudah Dimulai

Kementan kini tengah mengarahkan fokus pada pengadaan benih unggul dan perluasan lahan di luar Pulau Jawa guna merevitalisasi sektor hulu pergulaan nasional
Iim Fathimah Timorria
Iim Fathimah Timorria - Bisnis.com 26 Juni 2019  |  21:30 WIB
Kementan Sebut Revitalisasi Lini Industri Gula sudah Dimulai
Buruh memanen tebu untuk dikirim ke pabrik gula di Ngawi, Jawa Timur, Selasa (8/8). - ANTARA/Ari Bowo Sucipto

Bisnis.com, JAKARTA - Direktorat Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian menyatakan pihaknya telah menjalankan program revitalisasi pada sejumlah faktor yang mempengaruhi produksi nasional.

Direktur Jenderal Perkebunan Kasdi Subagyono menjelaskan langkah penguatan telah mulai dilakukan di sektor hulu maupun hilir.

"Jadi dari revitalisasi itu kami sudah mulai dengan revitalisasi pabrik gula. Melalui investasi dan sudah ada yang jalan, seperti di Dompu, Nusa Tenggara Barat dan di Ogan Komering Ilir, Sumatera Selatan. Hal ini tentunya diikuti dengan revitalisasi di bagian hulu," kata Kasdi saat dihubungi Bisnis.

Adapun untuk revitalisasi di sektor hulu, Kementan kini tengah mengarahkan fokus pada pengadaan benih unggul dan perluasan lahan di luar Pulau Jawa.

"Kami juga akan memperluas plasma-plasma tebu di luar Pulau Jawa. Tujuan khususnya supaya ketersediaan tebu mencukupi kapasitas terpasang dari pabrik-pabrik gula yang ada," terang Kasdi.

Berdasarkan data yang dihimpun Asosiasi Gula Indonesia, luas area tebu selama lima tahun terakhir memang mengalami penurunan. Pada tahun 2014, luas area tebu berada di angka 472.676 hektare.

Jumlah tersebut terus menyusut sampai di angka 427.912 hektare pada 2018. Sementara untuk program plasma tebu di luar Pulau Jawa, sampai Mei 2019 tercatat telah tersedia 2.000 hektare lahan yang berada di Dompu, Ogan Komering Ilir, Gorontalo, dan Bombana.

Permasalahan ketersediaan bahan baku bagi pabrik gula memang masih menjadi masalah dalam rantai produksi gula.

Sebelumnya, Ketua Umum Dewan Pembina DPP APTRI Arum Sabil menyebutkan tahun ini produksi gula pada 2019 menghadapi potensi penurunan lantaran pabrik gula yang mengalami idle capacity.

Ia memberi contoh pada pabrik gula dengan kapasitas terpasang sebesar 6.000 ton cane per day (TCD) yang hanya bisa menggiling 3.000 ton tebu akibat kekurangan bahan baku tebu.

Sementara dalam hal perbenihan, Kasdi mengaku program BUN500 atau penyediaan 500 juta benih bagi 8 komoditas perkebunan termasuk tebu diperkirakan dapat memacu produktivitas.

Dia menyebutkan benih unggul tersebut memiliki potensi produktivitas dua sampai tiga kali lebih tinggi.

"Produktivitas tebu kita rata-rata 80 sampai 100 ton per hektare, [dengan bibit unggul] dinaikkan karena sudah ada potensi peningkatan sampai 140 ton per hektare. Peningkatan ini karena ada klon-klon baru yang produktivitasnya lebih tinggi," tutur Kasdi.

Untuk komoditas tebu, Kasdi menjelaskan pengadaan benih bakal menyasar lahan-lahan perluasan tebu plasma yang memiliki keunggulan komparatif dan kompetitif tinggi.

Sementara untuk lahan tebu yang saat ini didominasi pertanaman ratoon (RC), ia mengatakan perlu ada bongkar ratoon untuk meningkatkan produktivitas.

"Kan sekarang masih banyak yang menggunakan ratoon. Kalau produktivitasnya dinaikkan harus bongkar ratoon dan ditanami yang baru," kata Kasdi. 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
kementan, industri gula

Editor : Rustam Agus

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top