2.700 Calon Dokter Berulang Kali Gagal Uji Kompetensi

Tingkat lulusan dari banyak fakultas masih sangat rendah terutama berakreditasi C.
Yanita Petriella
Yanita Petriella - Bisnis.com 20 Juni 2019  |  09:01 WIB
2.700 Calon Dokter Berulang Kali Gagal Uji Kompetensi
Dokter memeriksa anak yang mengalami gejala difteri. - Twitter

Bisnis.com, JAKARTA —  Konsul Kedokteran Indonesia menyatakan ada sekitar 2.700 calon dokter lulusan fakultas kedokteran yang tak kunjung lulus uji kompetensi. Kebanyakan dari calon-calon dokter tersebut mengenyam pendidikan di fakultas kedokteran berakreditasi C.

Ketua Konsul Kedokteran Indonesia Bambang Supriyatno mengatakan penilaian kompetensi melalui uji kompetensi yang dilaksanakan secara nasional menunjukkan hasil yang memprihatinkan. Tingkat lulusan dari banyak fakultas kedokteran masih sangat rendah terutama berakreditasi C.

Ada sebanyak 2.700 calon dokter terakumulasi tak kunjung lulus uji kompetensi dan tidak mendapat kepastian untuk hasil proses pendidikan yang cukup panjang.

Saat ini jumlah fakultas kedokteran yang ada di Indonesia ada 89 fakultas yang berada sebanyak 38 di Perguruan Tinggi Negeri (PTN) dan 51 di Perguruan Tinggi Swasta (PTS). Dari jumlah itu, yang telah terakreditasi A sebanyak 22 fakultas, lalu akreditasi B ada sebanyak 45 fakultas dan akreditasi C ada sebanyak 22 fakultas. 

Menurutnya, masih banyak fakultas kedokteran yang belum memenuhi standar ketersediaan tenaga pendidik atau dosen kedokteran serta persyaratan.

"Surat Keterangan [SK] muncul dengan mengejutkan banyak pihak. Kalau keluar SK kan berarti kan sah, nah ini yang membingungkan sebab banyak dari fakultas tersebut yang tidak divisitasi," ucap Bambang.

Kepala BPPSDMK Kemenkes RI Usman Sumantri menuturkan lulusan kedokteran di Indonesia sangatlah besar yakni mencapai 12.000 orang di tahun in. Indonesia saat ini mengalami surplus tenaga kesehatan khususnya profesi dokter.

Pihaknya bersama Kemenristekdikti sudah sepakat untuk mengendalikan lulusan dokter pada fakultas kedokteran yang ada saat ini dengan membatasi kuota lulusan sebanyak 2.000 orang per tahun. 

"Kalau semuanya memproduksi, bayangkan jumlahnya. Makanya dikuotakan supaya tidak terlalu banyak dan kualitasnya semakin bagus," katanya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
dokter, pendidikan tinggi

Editor : Demis Rizky Gosta

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top