Dampak Perang Dagang, Output Industri China Melambat

Tantangan ekonomi yang terus meningkat di tengah perang tarif dengan Amerika Serikat menarik pertumbuhan output industri China melambat ke laju terlemah sejak 2002.
Nirmala Aninda
Nirmala Aninda - Bisnis.com 17 Juni 2019  |  09:15 WIB
Dampak Perang Dagang, Output Industri China Melambat
. - .Bloomberg

Bisnis.com, JAKARTA -- Tantangan ekonomi yang terus meningkat di tengah perang tarif dengan Amerika Serikat menarik pertumbuhan output industri China melambat ke laju terlemah sejak 2002.

Output industri naik 5 perseb dari tahun sebelumnya, sementara investasi aset tetap meningkat 5,6 persen dalam lima bulan pertama. Keduanya lebih lambat dari pada bulan April dan di bawah ekspektasi. 

Sementara itu, sektor penjualan ritel masih mampu berkembang dengan pertumbuhan 8,6 persen lebih tinggi dibandingkan Mei tahun lalu, sebagian karena liburan May Day yang lebih panjang mendorong lebih banyak kegiatan pariwisata dan pengeluaran masyarakat.

Pemerintah China telah berulang kali mengatakan bahwa ekonomi cukup kuat untuk mengatasi perang perdagangan. 

Lu Ting, Kepala Ekonom untuk kawasan China di Nomura Holdings Inc., Hong Kong, mengatakan bahwa Beijing dipastikan akan meningkatkan langkah-langkah pelonggaran kebijakan untuk menahan perlambatan yang memburuk.

“Kami memperkirakan Beijing akan kembali memberi pemerintah daerah lebih banyak kebebasan untuk menghapuskan beberapa pembatasan di pasar properti guna mendorong pertumbuhan," ujar Lu, seperti dikutip melalui Bloomberg, Senin (17/6/2019).

Dia juga menambahkan, Beijing kemungkinan membiarkan yuan terdepresiasi lebih lanjut jika pemerintah AS memutuskan untuk mengenakan tarif tambahan 25 persen pada daftar sisa impor senilai US$300 miliar.

Meskipun pemerintah dan bank sentral telah meluncurkan berbagai langkah yang ditargetkan untuk mendorong ekonomi, intensitasnya tidak sebesar tahun lalu.

Langkah tersebut antara lain dengan mendorong pengeluaran infrastruktur, mendukung pertumbuhan kredit, memotong pajak dan meningkatkan konsumsi.

Adapun, investasi fixed-asset oleh perusahaan milik negara maupun swasta tercatat melambat.

Data dari Biro Statistik Nasional bahkan menunjukkan adanya penurunan minat investasi pada delapan sektor. 

Meskipun melemah, investasi properti masih mencatatkan pertumbuhan 11,2 persen pada lima bulan pertama tahun ini, dan tetap menjadi sektor yang menopang ekonomi secara luas.

"Ini jauh lebih lemah dari yang diharapkan dan kemungkinan akan meningkatkan peluang tindakan dari PBOC dalam waktu dekat, terutama jika hasil pertemuan G20 antara pemimpin AS dan China lebih buruk dari yang diperkirakan," kata Becky Liu, Kepala Strategi Makro China di Standard Chartered Plc, Hong Kong.

Juru bicara Biro Statistik Nasional China menyatakan bahwa fluktuasi data adalah hal yang normal. Namun mereka mengakui bahwa ketidakpastian eksternal tengah mengalami peningkatan.

"China memiliki sejumlah besar ruang untuk meningkatkan konsumsi dan menambahkan hampir 6 juta pekerjaan dalam lima bulan pertama tahun ini," ujar pernyataan tersebut.

Berdasarkan hasil survei, tingkat pengangguran di China sampai dengan Mei berada pada level 5 persen atau sama dengan catatan pada April lalu.

Menurut Iris Pang, seorang ekonom di ING Bank N.V., Hong Kong, China membutuhkan lebih dari sekadar stimulus untuk menjaga pertumbuhan produk domestik bruto di atas 6 persen.

"Penjualan ritel tetap terlihat baik berkat libur panjang pada bulan Mei. Namun hal itu juga bisa memberikan gambaran bahwa konsumen China lebih banyak membelanjakan uangnya di dalam negeri ketimbang pergi berlibur," kata Pang.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
perang dagang AS vs China

Editor : Tegar Arief

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top
Tutup