Pertumbuhan Output Industri China Melambat pada Mei

Pertumbuhan output industri China melambat ke laju terlemah sejak 2002, menyoroti tantangan yang dihadapi ekonomi saat ini di tengah pergulatan dengan perang tarif dengan AS.
Aprianto Cahyo Nugroho
Aprianto Cahyo Nugroho - Bisnis.com 14 Juni 2019  |  15:41 WIB

Bisnis.com, JAKARTA – Pertumbuhan output industri China melambat ke laju terlemah sejak 2002, menyoroti tantangan yang dihadapi ekonomi saat ini di tengah pergulatan dengan perang tarif dengan AS.

Berdasarkan data National Burreau of Statistics, output industri naik 5 persen pada bulan Mei dibandingkan tahun sebelumnya, lebih rendah dari estimasi sebesar 5,4 persen. Adapun penjualan ritel meningkat 8,6 pada Mei, dibandingkan dengan proyeksi 8,1 persen.

Sementara itu, investasi aset tetap melambat menjadi 5,6 persen dalam lima bulan pertama, dibandingkan dengan perkiraan sebesar 6,1 persen.

Pemerintah dan bank sentral telah meluncurkan berbagai langkah yang ditargetkan untuk mendorong pengeluaran infrastruktur, mendukung pertumbuhan kredit, memotong pajak dan meningkatkan konsumsi, tetapi sejauh ini telah menghindari rencana stimulus besar-besaran seperti sebelumnya.

Gubernur People's Bank of China, Yi Gang mengatakan pekan lalu bahwa ada ruang yang sangat besar untuk menyesuaikan kebijakan moneter jika konflik perdagangan terjadi semakin dalam.

"Ini jauh lebih lemah dari yang diharapkan dan kemungkinan akan meningkatkan peluang tindakan dari PBOC dalam waktu dekat, terutama jika hasil pertemuan G20 antara pemimpin AS dan China lebih buruk dari yang diperkirakan,” kata Becky Liu, kepala analis makroekonomi China di Standard Chartered Plc, seperti dikutip Bloomberg.

Investasi aset tetap oleh perusahaan milik negara dan swasta melambat, sedangkan ada penurunan investasi di delapan sektor, termasuk pertanian, manufaktur mobil dan mesin.

"Manufaktur dan investasi aset yang lebih lambat dari perkiraan masih mencerminkan bahwa China membutuhkan lebih banyak stimulus untuk menjaga pertumbuhan PDB di atas 6 persen," kata Iris Pang, ekonom di ING Bank N.V.

“Penjualan ritel baik karena didukung oleh libur panjang di bulan Mei. Tapi itu juga bisa menjadi tanda bahwa konsumen China lebih menghabiskan waktu di dalam negeri daripada melakukan perjalanan ke luar negeti,” lanjutnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
ekonomi china

Editor : Mia Chitra Dinisari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top