PMI Manufaktur Naik, Kemenperin Optimistis Investasi Meningkat

Kementerian Perindustrian optimistis pelaku industri manufaktur akan meningkatkan kinerja pada tahun ini seiring dengan kenaikan data Purchasing Managers Index (PMI) manufaktur Indonesia yang dirilis oleh Nikkei.
Rio Sandy Pradana
Rio Sandy Pradana - Bisnis.com 02 Juni 2019  |  21:37 WIB
PMI Manufaktur Naik, Kemenperin Optimistis Investasi Meningkat
Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto memberikan sambutan pada Peresmian Pelepasan Kontainer Ekspor Ke-3000 dengan tujuan ke negara-negara Eropa, serta Penyerahan Sertifikat Pelatihan Vokasi Mekatronik dari German Indonesian Chamber of Commerce & Industry (Ekonid) untuk PT Bayer Indonesia dan Siswa SMK di Depok, Jawa Barat, 27 Maret 2019. - KEMENPERIN
Bisnis.com JAKARTA--Kementerian Perindustrian optimistis pelaku industri manufaktur akan meningkatkan kinerja pada tahun ini seiring dengan kenaikan data Purchasing Managers Index (PMI) manufaktur Indonesia yang dirilis oleh Nikkei.
 
PMI manufaktur Indonesia pada Mei tahun ini sebesar 51,6, atau naik dibanding bulan sebelumnya yang ada di posisi 50,4. Poin PMI di atas angka 50 menandakan bahwa sektor manufaktur tengah ekspansif.
 
Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto mengatakan kondisi bisnis yang dihadapi oleh para pelaku industri manufaktur Indonesia terus membaik pada pertengahan triwulan kedua 2019. Pendorong kenaikan adalah ekspansi yang lebih kuat pada output dan pertumbuhan pada permintaan baru.
 
Capaian bulan Mei 2019 merupakan yang tertinggi sejak Agustus 2018. Pada periode bulan Mei memperlihatkan kepercayaan diri pelaku manufaktur Indonesia terus melonjak, perusahaan juga menaikkan jumlah tenaga kerja, dan menaikkan aktivitas pembelian.
 
"Kami melihat, para pelaku industri manufaktur masih tetap optimistis untuk melakukan ekspansi atau menambah investasi. Hal ini didukung dengan kondisi politik, ekonomi, dan keamanan di Indonesia yang stabil dan kondusif, terutama pascapemilu kemarin," kata Airlangga dalam siaran pers, Minggu (2/6/2019).
 
Pihaknya optimistis kinerja industri manufaktur semakin menggeliat. Apalagi adanya infrastruktur transportasi yang semakin meningkat pesat dengan konektivitas wilayah timur dan barat Jawa, serta beberapa wilayah yang menjadi feeder dan hub di Indonesia.
 
Kemudian, potensi lainnya adalah pengalaman industrialisasi di Indonesia yang lebih dari 30 tahun sehingga telah memiliki pool of talent untuk sektor unggulan.
Guna menggenjot kinerja industri, pemerintah juga memprioritaskan pendidikan vokasi dan politeknik dengan memperkenalkan sistem link and match untuk mereformasi kurikulum.
 
Tak hanya itu, untuk memacu investasi di sektor industri, Kementerian turut memfasilitasi sejumlah pembangunan politeknik di kawasan industri.
Langkah strategis ini untuk menciptakan sumber daya manusia (SDM) kompeten yang sesuai kebutuhan dunia industri saat ini.
 
"Kami telah membangun politeknik, antara lain di kawasan industri Cilegon, Morowali, dan Kendal," ujarnya.
 
Selanjutnya, Kemenperin telah mengusulkan pemberian insentif fiskal berupa super deductible tax untuk industri yang aktif melakukan kegiatan penelitian dan pengembangan untuk menghasilkan inovasi serta industri yang terlibat dalam program pendidikan dan pelatihan vokasi.
Insentif fiskal ini diyakini dapat menarik para investor di sektor industri sekaligus mendongkrak daya saingnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
manufaktur, kemenperin

Editor : Rahayuningsih

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top