Sriwijaya Air Group Optimistis Masih Bisa Raup Untung Rp350 Miliar

Sriwijaya Air Group optimistis bisa memperoleh laba hingga Rp350 miliar hingga akhir tahun ini.
Rio Sandy Pradana
Rio Sandy Pradana - Bisnis.com 29 Mei 2019  |  17:06 WIB
Sriwijaya Air Group Optimistis Masih Bisa Raup Untung Rp350 Miliar
Dirut Sriwijaya Air Joseph A. Saul menjelaskan kondisi terkini perusahaan saat acara buka bersama, Selasa (28/5/2019). - Bisnis/Rio Sandy Pradana

Bisnis.com, JAKARTA - Sriwijaya Air Group optimistis bisa memperoleh laba hingga Rp350 miliar hingga akhir tahun ini kendati terbebani penurunan tarif batas atas tiket penerbangan.


Direktur Utama Sriwijaya Air Group Joseph A. Saul mengatakan, cara yang ditempuh adalah dengan meningkatkan pendapatan baik dari operasional maupun tambahan (ancillary). Hal tersebut terjadi seiring dengan risiko penurunan pendapatan sebesar 15% yang dialami maskapai.


"Berkat kerja sama dengan Garuda Indonesia Group, kami optimistis bisa untung Rp350 miliar tahun ini," kata Joseph, Selasa (28/5/2019) malam.


Dia menjelaskan peningkatan pendapatan dilakukan dengan cara memasang harga mendekati TBA sesuai kategori layanan menengah. Adapun, rata-rata harga tiket Sriwijaya Group naik 50% dibandingkan dengan tahun lalu.


Rata-rata harga tiket setiap rute penerbangan pada tahun lalu adalah Rp400.000, sementara pada tahun ini sudah ditingkatkan menjadi Rp800.000. Hal tersebut guna mengimbangi dengan biaya operasional yang terus meningkat sejak 2016.


Pihaknya mengakui terdapat penurunan tingkat keterisian kursi (seat load factor/SLF) dari 76% pada kuartal I/2018 menjadi 72% pada kuartal I/2019. Namun, jika dilihat dari segi pendapatan justru mengalami kenaikan dengan harga tiket baru.


Di sisi lain, biaya operasional yang dikeluarkan justru menurun karena penurunan SLF. Dampaknya pesawat akan mengangkut penumpang lebih sedikit, bagasi lebih sedikit, sehingga tercipta efisiensi.


"Saya akan tetap pasang harga di TBA. Mohon maaf, namanya bisnis seperti itu, agar tetap untung dan bertahan," ujarnya.


Strategi peningkatan pendapatan tambahan yang dilakukan Sriwijaya adalah dengan melakukan charge biaya bagasi jika melebihi 15 kg, prebook meals, dan menjual kursi kelas premium economy dengan harga lebih tinggi.


Kelas premium economy tersebut menjanjikan kenyamanan lebih terhadap penumpang dengan mengosongkan kursi tengah dalam satu baris konfigurasi. Jika biasanya dalam satu baris terdapat tiga kursi, kali ini hanya ada dua kursi saja di bagian dekat jendela dan lorong kabin.

Caption: Dirut Sriwijaya Air Joseph A. Saul menjelaskan kondisi terkini perusahaan saat acara buka bersama, Selasa (28/5/2019). 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
sriwijaya air

Editor : Yusuf Waluyo Jati

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top