Pedagang Online yang Hanya Bisa Pasrah saat Pembatasan Media Sosial

Tidak hanya berdampak langsung kepada penjualan, daya jangkau profil akun medsos yang mereka bangun dengan telaten selama berbulan-bulan anjlok dalam hitungan hari.
Yanita Petriella
Yanita Petriella - Bisnis.com 29 Mei 2019  |  11:39 WIB
Pedagang Online yang Hanya Bisa Pasrah saat Pembatasan Media Sosial
Tangkapan layar akun Instagram My Prettylicious Nail Art.

Bisnis.com,, JAKARTA — Selama pembatasan fitur beberapa platform internet pada pekan lalu, sejumlah usaha kecil dan menengah yang mengandalkan media sosial untuk sarana pemasaran dan komunikasi hanya bisa pasrah. Tidak hanya berdampak langsung kepada penjualan, daya jangkau profil akun medsos yang mereka bangun dengan telaten selama berbulan-bulan anjlok dalam hitungan hari.

Sejumlah pelaku usaha online mengeluhkan penurunan penjualan sekitar 40% dari penjualan melalui sosial media instagram akibat pembatasan penggunaan media sosial dan whatshapp yang dilakukan sejak Rabu (22/5). 

Indah, Admin Akun Instagram Specialtextile, mengatakan dampak dari pembatasan penggunaan media sosial ini berdampak pada penurunan penjualan sebesar 40% dibandingkan dengan hari biasa.

"Banyak customer yang biasa bisa akses instagram dengan mudah jadi sulit untuk membuka. Mengirim dan menerima foto jadi kendala," ujarnya kepada Bisnis, Jumat (24/5). 

Akun yang menjual berbagai jenis kain impor ini dengan pengikut sebanyak 179.000 ini  untuk mengurangi kerugian meningkatkan penjualan secara offline atau toko. 

"Untuk detail omzetnya berapa kami tidak hitung karena digabung dengan omzet toko tapi yang jelas secara online berkurang 40%," katanya. 

Kendati demikian, meski terjadi penurunan, pihaknya tak masalah dibatasi penggunaannya demi keamanan. Pihaknya pun selalu mendukung kebijakan pemerintah. 

Aileen Tjeliecia, pemilik dari online shop Oyl.Oats menuturkan terjadi penurunan pembelian minuman Oats dan Teatox sekitar 40%. Penurunan ini akibat adanya pembatasan media sosial dan WhatsApp. 

Akun yang memiliki pengikut sebanyak 24.000 akun ini berharap dengan adanya pembatasan ini penggunaan media sosial semakin lebih baik. 

"Seperti dulu dan banyak berita positif yang bawa dampak dan juga buat pemakai. Kami harap cepat kembali normal karena sosial media ini juga bisa meningkatkan penjualan," tutur Aileen. 

Sama halnya yang dialami oleh Jessica pemilik online shop nail art yang diberi nama My Prettylicious Nail Art yang memiliki pengikut 48.600 akun ini juga mengalami penurunan penjualan. Namun, besaran tak mencapai sebesar 40%. 

Selain akibat pembatasan medsos, penurunan penjualan juga akibat engagement. Biasanya tiap unggahan akun My Prettylicious Nail Art menerima ratusan like. Setelah pembatasan, jumlah like turun drastis.

"Profile visit [akun] Instagram kami turun sejak tanggal 21 dan 22 hingga kini 12.000 visit. Biasanya bisa 15.000. Jadi dampak ke penjualannya lebih panjang dan belum terasa sekarang" ujarnya. 

Kendati demikian, dia tak menampik saat ini terjadi penurunan pemesanan kuku dari 20 boks per hari menjadi 15 boks saja. 

"Kami tidak masalah dengan pembatasan medsos ini selama itu baik untuk keamanan bersama di tengah marak isu provokatif," kata Jessica. 

Sementara itu, desainer  ternama Cynthia Tan yang selama pekan ini mengadakan penjualan berbagai macam dress dan gaun seken juga mengakui ada  dampak dari pembatasan media sosial dan WhatshApp. Jumlah pengikut akun instagram Cynthia Tan ini sebanyak 145.000 akun. 

"Berdampaknya untuk komunikasi dengan team via WhatsApp, kirim gambar itu enggak bisa. Kami usaha dibidang kreatif pasti banyak gambar desain yang dikirim," ucapnya. 

Kendati demikian, dia menuturkan tak ada hambatan dalam penjualan gaun yang dibanderol pada kisaran harga Rp400.000—Rp15 juta. 

"Kami menghargai pemerintah karena pembatasan medsos ini pasti mereka punya alasan yang baik untuk umum," kata Cynthia.

Terpisah, Ketua Umum Asosiasi Usaha Mikro, Kecil dan Menengah Indonesia (Akumindo) M Ikhsan Ingratubun berpendapat terjadi penurunan penjualan UMKM yang menggunakan media WhatsaApp dan media sosial sekitar 40% hingga 60%. 

"Ya kalau mereka hanya menggunakan media sosial atau online saja enggak punya toko offline tentu berdampak besar," ujarnya. 

Peran media sosial saat ini penting untuk memasarkan barang jualan para UMKM. "Ya serba salah kondisi saat ini," ucapnya 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
e-commerce, media sosial

Editor : Demis Rizky Gosta

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top