Awal Tahun yang Sulit bagi Industri Ritel

Dari awal tahun, ini hingga kini terjadi penurunan sektor ritel kurang lebih sekitar 5%.
Yanita Petriella
Yanita Petriella - Bisnis.com 22 Mei 2019  |  14:12 WIB
Awal Tahun yang Sulit bagi Industri Ritel
Suasana di salah satu pusat perbelanjaan di Jakarta, Selasa (8/1/2019). - Bisnis/Nurul Hidayat

Bisnis.com, JAKARTA — Industri ritel tahun ini menghadapi masa sulit karena terkena imbas kondisi politik di saat daya beli masyarakat belum pulih.

Wakil Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia Tutum Rahanta menuturkan tahun ini menjadi tahun yang sulit bagi pengusaha ritel karena kondisi politik dan belum pulihnya daya beli masyarakat.

“Presiden dan Wakil Presiden sudah diumumkan. Kami ingin situasi kembali kondusif sehingga industri ritel bisa bergeliat kembali,” terangnya.

Kendati demikian, dia pun meyakini kondisi industri ritel sepanjang tahun ini akan bertumbuh di atas 10% dari tahun lalu. Dari awal tahun ini hingga kini terjadi penurunan sektor ritel kurang lebih sekitar 5%.

“Kami yakin dengan kondisi politik yang kembali kondusif, ritel kembali bergeliat,” ucap Tutum.

Ekonom Indef Bhima Yudistira berpendapat industri ritel memang mengalami tekanan yang berat akibat pemilu dan perpolitikan.

“Dampaknya negatif ke perekonomian karena instabilitas politik ini. Ini berdampak pada turunnya belanja masyarakat.”

Bhima memperkirakan hingga akhir tahun ini industri ritel akan bertumbuh sekitar 10% hingga 12%. Hal itu dikarenakan daya beli masyarakat akan meningkat kembali karena masyarakat tak lagi menahan untuk berbelanja.

“Semoga di Lebaran ini dengan adanya THR dan gaji ke-13 dapat menggairahkan ritel terutama saat di momen lebaran ini.”

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
ritel

Editor : Demis Rizky Gosta

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top