Perang Dagang AS vs China : RAPP Optimistis Bisnis Kertas Bertumbuh

Eskalasi perang dagang Amerika Serikat vs China diyakini tidak berpengaruh kepada industri kertas nasional. PT Riau Andalan Pulp and Paper (RAPP) tetap optimistis terhadap pertumbuhan bisnisnya, meski tidak akan menambah kapasitas produksi tahun ini.
Andi M. Arief | 16 Mei 2019 21:50 WIB
Peniliti beraktivitas di laboratorium PT Riau Andalan Pulp and Paper (RAPP), di Pangkalan Kerinci, Riau. Perusahaan telah berinvestasi dalam penelitian dan pengembangan demi memastikan memperoleh bibit unggul untuk ditanam di hutan tanaman. - Istimewa

Bisnis.com, JAKARTA - Eskalasi perang dagang Amerika Serikat vs China diyakini tidak berpengaruh kepada industri kertas nasional. PT Riau Andalan Pulp and Paper (RAPP) tetap optimistis terhadap pertumbuhan bisnisnya, meski tidak akan menambah kapasitas produksi tahun ini.

Presiden Direktur PT Riau Andalan Pulp and Paper (RAPP) Sihol Aritonang menyampaikan perseroan tidak akan menambah kapasitas produksi pulp maupun kertas pada tahun ini. Pasalnya, perseroan telah meluncurkan mill kertas ketiga dengan kapasitas 250.000 ton per tahun senilai Rp4 triliun.

“Kalau bisnis RAPP, kami punya proyeksi yang optimis. Tahun ini kami juga mulai trial production ke sister company [kami] PT Asia Pasific Rayon. Ini kan satu diversifikasi,” katanya, Kamis (16/5/2019).

Seperti diketahui, PT Asia Pacific Rayon (APR) menyatakan akan menyisihkan hingga 50% dari total produksi perseroan pada tahun ini untuk konsumsi domestik. Adapun, APR memiliki kapasitas terpasang sebesar 240.000 ton serat rayon per tahun.

Sihol mengutarakan perseroan memiliki strategi untuk memasarkan 505 dari kapasitas produksi perseroan di dalam negeri, sedangkan sisanya untuk diekspor. Sihol menguraikan perseroan memiliki kapasitas produksi kertas sejumlah 1,1 juta ton per tahun. Adapun, produksi pulp perseroan per tahun mencapai 2,8 juta ton.

Sihol mencatat pangsa pasar perseroan pada akhir tahun lalu mencapai 30%--35%. Untuk pasar ekspor, sambungnya, perseroan tengah bekerja sama dengan Kementerian Perindustrian dan Kementerian Perdagangan untuk mencari jalan kelaur atas proteksi yang ditetapkan ekspor negara tujuan terhadap kertas produksi dalam negeri.

Sihol menyampaikan alasan negara tujuan ekspor dalam menerapkan proteksi tampak tidak adil. Menurutnya, harga kertas produksi di Tanah Air bisa berada di bawah harga kertas negara lain karena biaya operasional yang lebih rendah.

Pasalnya, industri pulp dan kertas di dalam negeri memiliki rotasi tanam pohon bahan baku dalam jangka 5—6 tahun sekali. Sementara itu, rotasi tanam pohon bahan baku di negara tetangga mencapai 25—30 tahun sekali.

“Realitas saja, kita itu diberkahi dengan tanah yang subur, sinar matahari sepanjang tahun, dan curah hujan more or less sepanjang tahun. Kalau bahan baku lebih banyak, biaya produksi lebh murah [karena kelebihan sumber daya alam] kok salah kita? Itu yang kadang-kadang kita bingung,” paparnya.

Pantau terus perkembangan Real Count KPU Pilpres 2019, di sini.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
perang dagang AS vs China

Editor : Fatkhul Maskur

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top
Tutup